Sunday, November 28, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 4

            Siang harinya, di tempat lain, Kanao tengah duduk di kursi artis di daerah pedesaan dekat tempat tinggalnya. Bibirnya bergerak membaca naskah dialog.
            ”Hey!” Seseorang menegurnya seraya memegang bahunya.
            Kanao menoleh. ”Kau mengagetkanku.”
            Model cantik yang ternama di Jepang tersenyum, ”Wah, kita berjodoh sekali,ya. Aku ada pemotretan di dekat sini. Jadi, setelahnya aku mampir ke sini.”
            Kanao mencibir, ”Paling kau yang sengaja memilih lokasi pemotretan di sini?”
            ”Upps, ketahuan,” Wanita itu menutup mulutnya, berpura-pura terkejut.
            Kanao tertunduk sejenak. ”Aku baik-baik saja di sana. Kau jangan khawatir.”
            ”Ya, aku bisa melihatnya. Kau baik-baik saja. Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu. Tidak salah, kan?”
            Lelaki itu pun tersenyum. ”Tomoe, setelah syuting, aku akan mengajakmu ke rumah baruku. Bagaimana?”
            ”Tentu aku mau. Sana cepat hafalkan dialogmu!” Tomoe menunjuk-nunjuk kertas dialog Kanao.
            ”Ahh, kau yang mengangguku.”
            Tomoe hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun dengan sabar menunggu Kanao menyelesaikan syutingnya.
Namun, ia harus cepat-cepat masuk ke mobil ketika melihat sekelompok fans datang untuk melihat sang bintang pujaannya, Kanao, syuting. Tomoe lebih memilih menghindari gosip bahwa dirinya dekat dengan Ide Kanao, aktor yang saat ini mencapai puncak karirnya.
            Di balik jendela mobilnya, Tomoe mengamati para fans. Sosok yang paling tak disukai sekaligus paling dibutuhkan Kanao. Ia pun tersenyum ketika melihat mereka. Setelah syuting, Kanao langsung masuk mobilnya. Manajernya kini sibuk mengklarifikasi sikap sombong Kanao dengan mengatakan ”Kanao terlalu lelah hari ini.”. Tomoe mengambil ponselnya, mengirim pesan bahwa ia akan mengikuti mobil Kanao pulang.
            Beberapa saat kemudian, Tomoe pun duduk di ruang tamu kecil di rumah Kanao. Di sebelahnya teh hijau yang masih panas disajikan.
            ”Kau tinggal di sini benar-benar sendiri?” tanyanya. ”Maksudku, tidak ada pembantu?”
            ”Kau ragu aku bisa tinggal di sini sendiri? Kanao balas bertanya.
            Tomoe menyentuh tatami dengan jari telunjuknya. Tak ada debu.
”Tapi di sini benar-benar bersih,” ujarnya.
            Kanao tertawa. ”Aku memang orang yang tidak bersih. Tapi aku benar-benar sendiri di sini.”
            Mata Tomoe menatap tajam Kanao. ”Aku tidak percaya.”
            Tawa kembali muncul dari mulut Kanao. ”Baiklah, aku tidak bisa membohongimu. Aku menyewa pembantu tapi ia hanya bekerja setengah hari..”
            ”Benar, kan,” Tomoe tampak puas.
Wanita cantik itu mengambil gelasnya. Dengan anggun, ia menyeruput teh hijau di dalamnya.
”Bagaimana warga desa ini? Mereka ramah?” tanyanya seraya meletakkan kembali gelasnya di meja.
            Kanao mengangguk. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun, terhenti oleh bunyi bel pintunya.
            ”Tunggu sebentar!” ujarnya pada Tomoe. Ia pun segera beranjak ke pintu depan.

Thursday, November 25, 2010

The Averior Chapter 1 Part 6

Gadis berambut coklat jerami duduk menghadap jendela. Burung-burung berkicau riang di luar sana. Suara daun yang saling bergesekan menyajikan melodi indahnya tersendiri.
Tiba-tiba gadis itu mencengkeram dadanya. Ekspresi wajahnya kesakitan.
“Lith?!” Ibunya menghampiri anaknya dengan wajah khawatir.
Lith kembali menguasai keadaan. “Aku tak apa-apa.”
Sudah seharian ini dadanya sering dilanda sesak yang amat menyakitkan.
”Istirahatlah di kamarmu,” bujuk ibunya. ”Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”
Gadis itu menurut. Ia berjalan menuju kamarnya. Di tempat tidurnya, ia kembali menatap jendela. Pikirannya menerawang.
Sudah tiga hari Ruud pergi meninggalkan desa, gumamnya dalam hati. Bagaimana keadaannya?
Berkilo-kilo meter jauhnya dari desa Thebe, Ruud tengah duduk berlindung dari teriknya matahari di bayangan atap sebuah rumah. Ia menatap tasnya yang isinya jauh sangat berkurang dibanding hari pertama perjalanannya. Dalam hati, ia mensyukuri bekal yang diberikan bibinya. Padahal sebelumnya ia sempat menolak. Ternyata, bertualang tidak semudah yang ia bayangkan. Sudah tiga hari berlalu, ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Ruud bangkit berdiri dan mengambil tasnya yang hampir kosong. Ia berjalan di jalanan desa asing yang kondisinya sangat jauh berbeda dari Thebe. Hampir sangat sering ia menemui gelandangan yang duduk di pinggir jalan. Lingkungannya pun sama sekali tidak asri dan hijau. Hanya ada rumah-rumah kumuh tanpa pepohonan di pinggir jalannya.
Beberapa langkah ia berjalan sampai tiba-tiba ia berhenti di hadapan tembok yang kumuh. Ia menatap selebaran yang ditempel di sana. Wajah seorang lelaki dengan mata yang besar membelalak terpampang di selebaran itu dengan tulisan ’DICARI’ di atasnya. Lama ia menatap selebaran itu. Lalu, dengan berlari ia kembali menyusuri jalan yang telah ditelusurinya. Ia berhenti di sebuah bangunan dengan papan nama bertuliskan ’Pandai Besi’. Seorang laki-laki separuh baya berdiri di balik meja di dalam bangunan itu. Ruud menghampirinya.
”Aku ingin dibuatkan pedang,” ucap Ruud.
Lelaki itu menatap Ruud. “Berapa yang kau punya?”
Ruud menggeledah isi tasnya. Kemudian, ia mengeluarkan keping-keping uang dan meletakkannya di hadapan si pandai besi.
Ia menatap tumpukan kecil uang di hadapannya. ”Kau bercanda?” Ia menyeringai. ”Pedang apa yang bisa kau dapatkan dengan uang itu?!”
”Nanti aku akan bayar sisanya,” janji Ruud.
”Bagaimana aku bisa memercayaimu?”
”Buatkan aku pedang maka dalam waktu seminggu aku akan kembali untuk membayar sisanya.”
Si pandai besi menggeleng. ”Tidak bisa.”
Lelaki itu hendak mengusir Ruud keluar dari rumahnya. ”Aku tak punya waktu untuk meladenimu.”
Namun, Ruud tak kehabisan ide. Ia melepas kalung peninggalan ayahnya dan menyodorkannya pada pandai besi itu.
”Ini,” ucapnya. ”Sebagai jaminan kalau aku akan kembali.”
Tangan si pandai besi berhenti mendorong Ruud keluar. Ia mengambil kalung dari tangan Ruud dan mengamatinya.
Tak lama ia berkata, ”Baiklah. Aku menerimanya.”
Ia berjalan kembali ke mejanya.
”Pedang seperti apa yang kau inginkan?” tanyanya pada Ruud.
”Aku ingin pedang terbaik yang bisa kau buat dan aku hanya punya waktu sehari.”
”Kau terlalu banyak menuntut,” komentar si pandai besi.
Namun, ia mencatat pesanan Ruud di secarik kertas. 
Keesokannya, Ruud kembali berjalan di jalan yang telah dilaluinya kemarin. Namun kali ini dengan sebilah pedang di pinggangnya. Ia melewati dinding dengan selebaran yang sudah dilihatnya. Mata besar lelaki yang fotonya terpampang di kertas itu kembali memandangnya. Tulisan ’BERHADIAH 100 KEPING EMAS BAGI YANG BERHASIL MENANGKAPNYA’ memenuhi pikiran Ruud. Inilah yang harus dilakukannya. Menjadi pemburu buronan. Selain mendapat uang, kelompok penjahat mungkin memiliki petunjuk yang dapat mengantarkannya pada pembunuh orangtuanya.

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 3

9 Februari 2009
”Shuichi!”
”Ya, sebentar lagi,” ujar seorang remaja laki-laki dari jendela kamarnya di lantai dua.
Di bawah, Yuna dengan seragam SMA-nya sudah berteriak-teriak memanggilnya. Shuichi Mizuno pun buru-buru memakai seragamnya. Ia turun ke bawah, menyambar roti dari meja makan, dan berjalan keluar.
“Okaa-san, aku pergi.”
“Ya,” ucap ibunya. “Lain kali jangan kesiangan lagi.”
Shuichi mengambil sepeda miliknya. Ia menghampiri Yuna yang dengan muka cemberut menunggunya di depan rumah.
”Ayo, kita berangkat!” ujar laki-laki itu seraya menggigit rotinya.
”Tiga hari berturut-turut kau selalu bangun kesiangan. Apa, sih, yang kau lakukan?” tanya Yuna marah.
”Cerewet!” Kata-kata Shuichi tak begitu jelas karena roti yang memenuhi mulutnya.
”Apa kau bilang?”
”Ayo, cepat naik! Kau tak mau terlambat, kan?”
Yuna menaiki sepeda Shuichi. ”Kalau kita terlambat, itu gara-gara kau.”
Shuichi menginjak pedal sepedanya. ”Kalau begitu, lain kali jalan saja sendiri. Jangan menumpang di sepedaku lagi!”
”Kau?!” Sepanjang perjalanan itu pun Yuna menekuk mukanya.
Sepanjang 5 km sepeda itu harus menempuh jarak. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Yuna masih marah dengan keterlambatan Shuichi. Namun, begitu sampai, ternyata mereka masih punya waktu lima menit sebelum sekolah dimulai.
”Kau tahu penduduk baru desa kita?” tanya Yuna begitu turun dari sepeda.
”Oh, rupanya kau masih mau bicara padaku?!” ejek Shuichi.
Yuna tak menjawab apa-apa. Ia hanya memalingkan mukanya seraya mendengus.
”Iya, aku tahu,” jawab Shuichi. ”Yang aktor itu?”
”Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Yuna. Matanya berbinar-binar.
“Belum. Ia tak memperkenalkan dirinya pada penduduk desa.”
“Oh.”
“Sepertinya ia orang yang sombong.” Shuichi menarik kesimpulan.
“Tidak, kok,” bela Yuna. “Mungkin ia tak terbiasa memperkenalkan dirinya, ia kan tinggal di Tokyo sebelumnya.”
“Ya, sudah. Kau kasih tahu saja bagaimana kehidupan di desa kepada orang kota itu!” ujar Shuichi setengah dongkol.
Yuna tak bereaksi dengan kedongkolan teman sejak kecilnya itu.
”Benar juga. Sepertinya aku harus mengajari Kanao-kun tentang kehidupan di desa,” gumamnya.
”Oh,” ucap Shuichi. ”Kau sudah bertemu dengannya, ya?”
”Ya,” Yuna mengangguk antusias. ”Ia tampaaaann sekali. Kau harus melihatnya.”
”Sudah tahu,” tanggap Shuichi cuek. ”Aku sering melihatnya di TV. Kenapa aku harus melihatnya lagi? Lagipula, aku tidak akan naksir dia.”
”Ia sering muncul di TV? Pasti ia terkenal sekali?”
Kepala Shuichi mengangguk. “Ia muncul di banyak iklan dan beberapa film seri. Film serinya yang terakhir mendapat banyak perhatian. Katanya ia akan main film lagi.”
“Ya, syutingnya di dekat desa kita. Wah, beruntung sekali aktor terkenal itu datang ke desa kita.”
Shuichi memandang Yuna heran. “Kenapa semua wanita heboh dengan kedatangannya? Termasuk ibuku.”