Siang harinya, di tempat lain, Kanao tengah duduk di kursi artis di daerah pedesaan dekat tempat tinggalnya. Bibirnya bergerak membaca naskah dialog.
Model cantik yang ternama di Jepang tersenyum, ”Wah, kita berjodoh sekali,ya. Aku ada pemotretan di dekat sini. Jadi, setelahnya aku mampir ke sini.”
Kanao mencibir, ”Paling kau yang sengaja memilih lokasi pemotretan di sini?”
”Upps, ketahuan,” Wanita itu menutup mulutnya, berpura-pura terkejut.
Kanao tertunduk sejenak. ”Aku baik-baik saja di sana. Kau jangan khawatir.”
”Ya, aku bisa melihatnya. Kau baik-baik saja. Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu. Tidak salah, kan?”
Lelaki itu pun tersenyum. ”Tomoe, setelah syuting, aku akan mengajakmu ke rumah baruku. Bagaimana?”
”Tentu aku mau. Sana cepat hafalkan dialogmu!” Tomoe menunjuk-nunjuk kertas dialog Kanao.
”Ahh, kau yang mengangguku.”
Tomoe hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun dengan sabar menunggu Kanao menyelesaikan syutingnya.
Namun, ia harus cepat-cepat masuk ke mobil ketika melihat sekelompok fans datang untuk melihat sang bintang pujaannya, Kanao, syuting. Tomoe lebih memilih menghindari gosip bahwa dirinya dekat dengan Ide Kanao, aktor yang saat ini mencapai puncak karirnya.
Di balik jendela mobilnya, Tomoe mengamati para fans. Sosok yang paling tak disukai sekaligus paling dibutuhkan Kanao. Ia pun tersenyum ketika melihat mereka. Setelah syuting, Kanao langsung masuk mobilnya. Manajernya kini sibuk mengklarifikasi sikap sombong Kanao dengan mengatakan ”Kanao terlalu lelah hari ini.”. Tomoe mengambil ponselnya, mengirim pesan bahwa ia akan mengikuti mobil Kanao pulang.
Beberapa saat kemudian, Tomoe pun duduk di ruang tamu kecil di rumah Kanao. Di sebelahnya teh hijau yang masih panas disajikan.
”Kau tinggal di sini benar-benar sendiri?” tanyanya. ”Maksudku, tidak ada pembantu?”
”Kau ragu aku bisa tinggal di sini sendiri? Kanao balas bertanya.
Tomoe menyentuh tatami dengan jari telunjuknya. Tak ada debu.
”Tapi di sini benar-benar bersih,” ujarnya.
Kanao tertawa. ”Aku memang orang yang tidak bersih. Tapi aku benar-benar sendiri di sini.”
Mata Tomoe menatap tajam Kanao. ”Aku tidak percaya.”
Tawa kembali muncul dari mulut Kanao. ”Baiklah, aku tidak bisa membohongimu. Aku menyewa pembantu tapi ia hanya bekerja setengah hari..”
”Benar, kan,” Tomoe tampak puas.
Wanita cantik itu mengambil gelasnya. Dengan anggun, ia menyeruput teh hijau di dalamnya.
”Bagaimana warga desa ini? Mereka ramah?” tanyanya seraya meletakkan kembali gelasnya di meja.
Kanao mengangguk. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun, terhenti oleh bunyi bel pintunya.
”Tunggu sebentar!” ujarnya pada Tomoe. Ia pun segera beranjak ke pintu depan.


