Thursday, December 30, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 5

            ”Kanao-kun,” Yuna menyambutnya di depan pintu.
            ”Ada apa, Yun.................?” Lengan Kanao langsung ditarik sebelum ia mampu menyelesaikan pertanyaannya.
            ”Kau tahu?” tanya Yuna seraya menarik Kanao keluar dari rumahnya. ”Kalau kau tinggal di desa, seharusnya kau memperkenalkan diri kepada seluruh penduduk desa.”
            ”Tapi, Yuna,” protes Kanao. ”Aku......”
            ”Kau tentunya tidak mau dianggap sombong oleh warga desa, kan?” Yuna kembali memotong perkataan Kanao.
            Kanao pun menyerah ditarik Yuna sampai tiba di sebuah rumah yang tak jauh dari gereja dan rumah tempat tinggal Yuna. Gadis kecil itu memencet bel rumah. Beberapa menit mereka menunggu sampai akhirnya seorang lelaki muda membuka pintu.
            ”Shuichi,” panggil Yuna. ”Cepat panggil orangtuamu. Kanao-kun mau memperkenalkan diri.”
            Bingung, Shuichi kembali masuk ke rumahnya dan kembali dengan keluarganya.
            ”Nah, ini keluarga Mizuno,” Yuna memperkenalkan mereka.
            ”Kau pasti Kanao, kan, yang aktor itu?” Ibu Shuichi tampak senang. ”Wah, kau benar-benar tampan.”
            Okaa-san!” seru Kanao, malu dengan ucapan ibunya.
            ”Ini Mizuno Shuichi,” Kini, Yuna memperkenalkan Shuichi. ”Ia seumuran denganku.”
            Hajimemashite,” ujar Kanao seraya membungkukkan badannya.
            Shuichi balas membungkukkan badan.
            ”Ayo Kanao-kun! Kita ke rumah yang lainnya,” ajak Yuna. ”Arigatou, Mizuno-san.”
            Mereka pergi mengunjungi rumah para penduduk desa yang jumlahnya tak begitu banyak. Satu hal yang Kanao sadari, anak muda di desa ini hanyalah Mizuno Shuichi dan Yuna sendiri. Penduduk di sini didominasi orang-orang berumur di atas lima puluh tahun serta sisanya ada beberapa anak kecil dan orang dewasa yang rata-rata sudah menikah.
            ”Sudah,” ujar Yuna riang selesai mereka berkeliling desa. ”Semua penduduk sudah kita kunjungi. Tak banyak, kan?”
            Kanao mengangguk. ”Arigatou, Yuna-chan.”
            Dou itashimashite,” balas Yuna. ”Aku senang kau mau ikut denganku untuk berkenalan dengan penduduk desa.”
            Kanao teringat Tomoe yang masih berada di rumahnya. ”Yuna-chan, aku harus segera kembali ke rumah. Sebenarnya, tadi aku ada tamu.”
            ”Oh, benarkah? Siapa itu? Apakah artis juga?” tanya Yuna penasaran.
            ”Ia seorang model. Kau mau bertemu dengannya?” ajak Kanao.
            Yuna mengangguk senang. ”Hai.”
            Ia pun mengikuti Kanao sampai ke rumahnya. Tiba di sana, ia masuk ke dalam dan melihat seorang wanita yang sudah tak asing lagi.
            ”Kau model iklan parfum, bukan?” tanya Yuna.
            ”Kau mengenalnya?” tanya Kanao heran.
            ”Ya, aku selalu melewati papan iklan besar parfum itu jika ingin bersekolah. Wanita ini adalah modelnya.”
            Tomoe bangun dari posisi duduknya. Ia menghampiri Yuna.
            Hajimemashite,” ia memperkenalkan diri. ”Namaku Fujiwara Tomoe. Aku senang kau mengenalku.”
            Hajimemashite. Aku Yuna.”
            ”Kau mau bergabung bersama kami?” ajak Tomoe. ”Tadi kami sedang minum teh.”
            ”Tidak, terima kasih. Aku harus pergi sekolah besok. Ini sudah terlalu malam,” ucap Yuna. ”Aku permisi dulu.”
            Ia segera beranjak ke pintu depan.
            Sesaat sebelum ia menutup pintu keluar, ia berhenti sejenak dan berkata, ”Maaf, tadi aku menarik Kanao-kun keluar. Aku tidak tahu kau sedang berkunjung ke sini.”
            ”Memang kau kemana tadi?” tanya Tomoe saat Yuna sudah tak terlihat.
            ”Diajak memperkenalkan diri ke penduduk desa, ” jawab Kanao. ”Gomen, aku jadi meninggalkanmu.”
            ”Gadis yang menarik,” Tomoe berkomentar.
            ”Aku sedikit kecewa saat ia mengenalmu.”
            Tomoe menatap Kanao dengan bingung.
            ”Ia tidak mengenalku,” jelas Kanao. ”Seharusnya, kan, popularitasku lebih tinggi daripada kau.”
            Tomoe tertawa. ”Kau terima saja kekalahanmu kali ini.”
            Sementara di rumahnya, Yuna tengah berbaring di futon. Matanya belum terpejam.
            ”Fujiwara Tomoe,” gumamnya. ”Minum teh di rumah Kanao-kun? Mereka pasti dekat.”
            Yuna menghembuskan nafas panjang, lalu ia memejamkan matanya. Sunyi selama beberapa menit. Kemudian, tiba-tiba,
            ”Wah, ia cantik sekali!” teriak Yuna kesal.

The Averior Chapter 1 Part 7

 Maka, lelaki muda itu memulai perjalanannya memburu sang buronan. Berhari-hari ia berjalan sambil mencari petunjuk tentang keberadaan lelaki bermata besar itu. Tak ada yang tahu tentang keberadaannya. Ruud mulai putus asa. Tetapi kemudian, seorang pemuda memberi secercah harapan untuk Ruud.
”Kurasa tadi pagi aku melihatnya di gubuk tua di ujung timur desa ini,” ujar pemuda itu.
”Terima kasih banyak.”
Ruud baru saja akan melangkahkan kakinya ketika pemuda itu memanggilnya.
”Kau serius ingin menangkapnya?” tanyanya.
Pertanyaannya dijawab dengan anggukan singkat.
”Darimana kau berasal?” tanya pemuda itu lagi.
Kini, Ruud hanya diam.
”Aku tahu kau pasti bukan berasal dari desa ini. Tak ada yang berani mengejar penjahat itu meskipun hadiahnya lumayan besar.”
”Aku tak peduli.” Ruud menanggapinya dingin.
”Hey!” Pemuda itu tampak tersinggung dengan tanggapan Ruud. ”Yang jelas aku sudah memperingatkanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas kemudian langsung berlalu meninggalkan pemuda itu. Ia pun bergerak menuju tempat yang tadi diberitahukan.
Sesampainya di sana, Ruud mengamati gubuk tua dari balik pohon. Seseorang jelas berada di sana karena dari jendela kecilnya, ia bisa melihat ada cahaya. Ia mengendap-endap mendekati gubuk itu. Ia mengintip dari balik jendela. Itu dia, sedang tertidur di balik selimut usang. Meskipun matanya tengah terpejam, Ruud masih bisa mengenalinya sebagai orang yang wajahnya terpampang di selebaran. Ruud merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ranting yang sudah diserut hingga tajam dan melumurinya dengan getah pohon beracun yang dikumpulkannya di sebuah botol kecil. Dari jendela kecil itu, ia membidik. Lima detik kemudian ranting tajam itu sudah tertancap di lengan lelaki yang tertidur itu.
Sang buronan terbangun dengan kaget. Namun, keterkejutannya tak berhenti di situ. Begitu ia terbangun sebilah pedang sudah siap untuk membelah tenggorokannya.
”Cih! Siapa kau?” Ia menatap wajah dingin seorang pemuda di hadapannya.
”Urusanku hanya untuk menangkapmu,” ujar Ruud.
 Kebencian tersirat jelas di wajah sang buronan. Dalam gerakan yang tiba-tiba, ia memberontak. Ruud melompat mundur. Sang buronan menyambar pedangnya dan mulai menyerang Ruud. Mereka pun mulai terlibat adu pedang. Namun, tak lama gerakan sang buronan melambat.
”Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya panik.
”Ranting tadi,” jawab Ruud. ”kulumuri racun yang akan membuat tubuhmu mati rasa.”
Mata besar sang buronan bersinar penuh amarah.
“Kalau begitu aku akan menghabisimu sebelum tubuhku benar-benar mati rasa.”
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengayunkan pedang ke arah Ruud. Ruud yang tak terbiasa menggunakan pedang mulai merasa kesusahan. Namun, ia masih bisa menangkis serangan-serangan musuh.
Tiba-tiba, Ruud bergerak menjauh. Wajahnya tampak kaget. Ia menunduk memandang pedangnya. Retakan besar terlihat di pedang besi itu. Ia memutar otaknya berusaha memikirkan cara mengatasinya. Ia harus mengubah strategi. Ia akan menghindari setiap serangan musuhnya.

Sunday, November 28, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 4

            Siang harinya, di tempat lain, Kanao tengah duduk di kursi artis di daerah pedesaan dekat tempat tinggalnya. Bibirnya bergerak membaca naskah dialog.
            ”Hey!” Seseorang menegurnya seraya memegang bahunya.
            Kanao menoleh. ”Kau mengagetkanku.”
            Model cantik yang ternama di Jepang tersenyum, ”Wah, kita berjodoh sekali,ya. Aku ada pemotretan di dekat sini. Jadi, setelahnya aku mampir ke sini.”
            Kanao mencibir, ”Paling kau yang sengaja memilih lokasi pemotretan di sini?”
            ”Upps, ketahuan,” Wanita itu menutup mulutnya, berpura-pura terkejut.
            Kanao tertunduk sejenak. ”Aku baik-baik saja di sana. Kau jangan khawatir.”
            ”Ya, aku bisa melihatnya. Kau baik-baik saja. Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu. Tidak salah, kan?”
            Lelaki itu pun tersenyum. ”Tomoe, setelah syuting, aku akan mengajakmu ke rumah baruku. Bagaimana?”
            ”Tentu aku mau. Sana cepat hafalkan dialogmu!” Tomoe menunjuk-nunjuk kertas dialog Kanao.
            ”Ahh, kau yang mengangguku.”
            Tomoe hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun dengan sabar menunggu Kanao menyelesaikan syutingnya.
Namun, ia harus cepat-cepat masuk ke mobil ketika melihat sekelompok fans datang untuk melihat sang bintang pujaannya, Kanao, syuting. Tomoe lebih memilih menghindari gosip bahwa dirinya dekat dengan Ide Kanao, aktor yang saat ini mencapai puncak karirnya.
            Di balik jendela mobilnya, Tomoe mengamati para fans. Sosok yang paling tak disukai sekaligus paling dibutuhkan Kanao. Ia pun tersenyum ketika melihat mereka. Setelah syuting, Kanao langsung masuk mobilnya. Manajernya kini sibuk mengklarifikasi sikap sombong Kanao dengan mengatakan ”Kanao terlalu lelah hari ini.”. Tomoe mengambil ponselnya, mengirim pesan bahwa ia akan mengikuti mobil Kanao pulang.
            Beberapa saat kemudian, Tomoe pun duduk di ruang tamu kecil di rumah Kanao. Di sebelahnya teh hijau yang masih panas disajikan.
            ”Kau tinggal di sini benar-benar sendiri?” tanyanya. ”Maksudku, tidak ada pembantu?”
            ”Kau ragu aku bisa tinggal di sini sendiri? Kanao balas bertanya.
            Tomoe menyentuh tatami dengan jari telunjuknya. Tak ada debu.
”Tapi di sini benar-benar bersih,” ujarnya.
            Kanao tertawa. ”Aku memang orang yang tidak bersih. Tapi aku benar-benar sendiri di sini.”
            Mata Tomoe menatap tajam Kanao. ”Aku tidak percaya.”
            Tawa kembali muncul dari mulut Kanao. ”Baiklah, aku tidak bisa membohongimu. Aku menyewa pembantu tapi ia hanya bekerja setengah hari..”
            ”Benar, kan,” Tomoe tampak puas.
Wanita cantik itu mengambil gelasnya. Dengan anggun, ia menyeruput teh hijau di dalamnya.
”Bagaimana warga desa ini? Mereka ramah?” tanyanya seraya meletakkan kembali gelasnya di meja.
            Kanao mengangguk. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun, terhenti oleh bunyi bel pintunya.
            ”Tunggu sebentar!” ujarnya pada Tomoe. Ia pun segera beranjak ke pintu depan.

Thursday, November 25, 2010

The Averior Chapter 1 Part 6

Gadis berambut coklat jerami duduk menghadap jendela. Burung-burung berkicau riang di luar sana. Suara daun yang saling bergesekan menyajikan melodi indahnya tersendiri.
Tiba-tiba gadis itu mencengkeram dadanya. Ekspresi wajahnya kesakitan.
“Lith?!” Ibunya menghampiri anaknya dengan wajah khawatir.
Lith kembali menguasai keadaan. “Aku tak apa-apa.”
Sudah seharian ini dadanya sering dilanda sesak yang amat menyakitkan.
”Istirahatlah di kamarmu,” bujuk ibunya. ”Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”
Gadis itu menurut. Ia berjalan menuju kamarnya. Di tempat tidurnya, ia kembali menatap jendela. Pikirannya menerawang.
Sudah tiga hari Ruud pergi meninggalkan desa, gumamnya dalam hati. Bagaimana keadaannya?
Berkilo-kilo meter jauhnya dari desa Thebe, Ruud tengah duduk berlindung dari teriknya matahari di bayangan atap sebuah rumah. Ia menatap tasnya yang isinya jauh sangat berkurang dibanding hari pertama perjalanannya. Dalam hati, ia mensyukuri bekal yang diberikan bibinya. Padahal sebelumnya ia sempat menolak. Ternyata, bertualang tidak semudah yang ia bayangkan. Sudah tiga hari berlalu, ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Ruud bangkit berdiri dan mengambil tasnya yang hampir kosong. Ia berjalan di jalanan desa asing yang kondisinya sangat jauh berbeda dari Thebe. Hampir sangat sering ia menemui gelandangan yang duduk di pinggir jalan. Lingkungannya pun sama sekali tidak asri dan hijau. Hanya ada rumah-rumah kumuh tanpa pepohonan di pinggir jalannya.
Beberapa langkah ia berjalan sampai tiba-tiba ia berhenti di hadapan tembok yang kumuh. Ia menatap selebaran yang ditempel di sana. Wajah seorang lelaki dengan mata yang besar membelalak terpampang di selebaran itu dengan tulisan ’DICARI’ di atasnya. Lama ia menatap selebaran itu. Lalu, dengan berlari ia kembali menyusuri jalan yang telah ditelusurinya. Ia berhenti di sebuah bangunan dengan papan nama bertuliskan ’Pandai Besi’. Seorang laki-laki separuh baya berdiri di balik meja di dalam bangunan itu. Ruud menghampirinya.
”Aku ingin dibuatkan pedang,” ucap Ruud.
Lelaki itu menatap Ruud. “Berapa yang kau punya?”
Ruud menggeledah isi tasnya. Kemudian, ia mengeluarkan keping-keping uang dan meletakkannya di hadapan si pandai besi.
Ia menatap tumpukan kecil uang di hadapannya. ”Kau bercanda?” Ia menyeringai. ”Pedang apa yang bisa kau dapatkan dengan uang itu?!”
”Nanti aku akan bayar sisanya,” janji Ruud.
”Bagaimana aku bisa memercayaimu?”
”Buatkan aku pedang maka dalam waktu seminggu aku akan kembali untuk membayar sisanya.”
Si pandai besi menggeleng. ”Tidak bisa.”
Lelaki itu hendak mengusir Ruud keluar dari rumahnya. ”Aku tak punya waktu untuk meladenimu.”
Namun, Ruud tak kehabisan ide. Ia melepas kalung peninggalan ayahnya dan menyodorkannya pada pandai besi itu.
”Ini,” ucapnya. ”Sebagai jaminan kalau aku akan kembali.”
Tangan si pandai besi berhenti mendorong Ruud keluar. Ia mengambil kalung dari tangan Ruud dan mengamatinya.
Tak lama ia berkata, ”Baiklah. Aku menerimanya.”
Ia berjalan kembali ke mejanya.
”Pedang seperti apa yang kau inginkan?” tanyanya pada Ruud.
”Aku ingin pedang terbaik yang bisa kau buat dan aku hanya punya waktu sehari.”
”Kau terlalu banyak menuntut,” komentar si pandai besi.
Namun, ia mencatat pesanan Ruud di secarik kertas. 
Keesokannya, Ruud kembali berjalan di jalan yang telah dilaluinya kemarin. Namun kali ini dengan sebilah pedang di pinggangnya. Ia melewati dinding dengan selebaran yang sudah dilihatnya. Mata besar lelaki yang fotonya terpampang di kertas itu kembali memandangnya. Tulisan ’BERHADIAH 100 KEPING EMAS BAGI YANG BERHASIL MENANGKAPNYA’ memenuhi pikiran Ruud. Inilah yang harus dilakukannya. Menjadi pemburu buronan. Selain mendapat uang, kelompok penjahat mungkin memiliki petunjuk yang dapat mengantarkannya pada pembunuh orangtuanya.

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 3

9 Februari 2009
”Shuichi!”
”Ya, sebentar lagi,” ujar seorang remaja laki-laki dari jendela kamarnya di lantai dua.
Di bawah, Yuna dengan seragam SMA-nya sudah berteriak-teriak memanggilnya. Shuichi Mizuno pun buru-buru memakai seragamnya. Ia turun ke bawah, menyambar roti dari meja makan, dan berjalan keluar.
“Okaa-san, aku pergi.”
“Ya,” ucap ibunya. “Lain kali jangan kesiangan lagi.”
Shuichi mengambil sepeda miliknya. Ia menghampiri Yuna yang dengan muka cemberut menunggunya di depan rumah.
”Ayo, kita berangkat!” ujar laki-laki itu seraya menggigit rotinya.
”Tiga hari berturut-turut kau selalu bangun kesiangan. Apa, sih, yang kau lakukan?” tanya Yuna marah.
”Cerewet!” Kata-kata Shuichi tak begitu jelas karena roti yang memenuhi mulutnya.
”Apa kau bilang?”
”Ayo, cepat naik! Kau tak mau terlambat, kan?”
Yuna menaiki sepeda Shuichi. ”Kalau kita terlambat, itu gara-gara kau.”
Shuichi menginjak pedal sepedanya. ”Kalau begitu, lain kali jalan saja sendiri. Jangan menumpang di sepedaku lagi!”
”Kau?!” Sepanjang perjalanan itu pun Yuna menekuk mukanya.
Sepanjang 5 km sepeda itu harus menempuh jarak. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Yuna masih marah dengan keterlambatan Shuichi. Namun, begitu sampai, ternyata mereka masih punya waktu lima menit sebelum sekolah dimulai.
”Kau tahu penduduk baru desa kita?” tanya Yuna begitu turun dari sepeda.
”Oh, rupanya kau masih mau bicara padaku?!” ejek Shuichi.
Yuna tak menjawab apa-apa. Ia hanya memalingkan mukanya seraya mendengus.
”Iya, aku tahu,” jawab Shuichi. ”Yang aktor itu?”
”Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Yuna. Matanya berbinar-binar.
“Belum. Ia tak memperkenalkan dirinya pada penduduk desa.”
“Oh.”
“Sepertinya ia orang yang sombong.” Shuichi menarik kesimpulan.
“Tidak, kok,” bela Yuna. “Mungkin ia tak terbiasa memperkenalkan dirinya, ia kan tinggal di Tokyo sebelumnya.”
“Ya, sudah. Kau kasih tahu saja bagaimana kehidupan di desa kepada orang kota itu!” ujar Shuichi setengah dongkol.
Yuna tak bereaksi dengan kedongkolan teman sejak kecilnya itu.
”Benar juga. Sepertinya aku harus mengajari Kanao-kun tentang kehidupan di desa,” gumamnya.
”Oh,” ucap Shuichi. ”Kau sudah bertemu dengannya, ya?”
”Ya,” Yuna mengangguk antusias. ”Ia tampaaaann sekali. Kau harus melihatnya.”
”Sudah tahu,” tanggap Shuichi cuek. ”Aku sering melihatnya di TV. Kenapa aku harus melihatnya lagi? Lagipula, aku tidak akan naksir dia.”
”Ia sering muncul di TV? Pasti ia terkenal sekali?”
Kepala Shuichi mengangguk. “Ia muncul di banyak iklan dan beberapa film seri. Film serinya yang terakhir mendapat banyak perhatian. Katanya ia akan main film lagi.”
“Ya, syutingnya di dekat desa kita. Wah, beruntung sekali aktor terkenal itu datang ke desa kita.”
Shuichi memandang Yuna heran. “Kenapa semua wanita heboh dengan kedatangannya? Termasuk ibuku.”

Friday, October 29, 2010

The Averior Chapter 1 Part 5

Kembali ke masa sepuluh tahun kemudian. Lith dan Ruud masih duduk di tepi sungai. Cukup lama mereka di sana. Sesekali mereka berbicara, mengenai keadaan keluarga, masa kecil, dan rencana perjalanan Ruud. Lith pun sadar betapa cepat ia akan kehilangan sahabat lelakinya itu.
            “Bagaimana dengan Bibi Fay?” tanya Lith. “Maksudku, apa ia masih tak mengizinkanmu?”
            ”Bagaimanapun juga aku akan tetap pergi.”
”Tapi kalau bibimu melarang?”
”Aku mungkin orang yang keras kepala. Tapi aku akan tetap pergi,” ucap Ruud tegas. ”Bibi Fay hanya terlalu mengkhawatirkanku.”
Gadis di sampingnya terdiam.
”Kau sudah sering kuceritakan. Bertualang itu cita-citaku sejak kecil,” tambah Ruud. ”Aku pikir 17 tahun adalah usia yang tepat.”
”Aku menghargai apapun keputusanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas. Lalu, mereka berdua kembali terdiam menatap sungai.
”Lith,” panggil Ruud beberapa lama kemudian.
Mata Lith menatap Ruud.
”Aku ada urusan penting,” kata Ruud. ”Terima kasih atas bukunya.”
”Ya,” Lith menggangguk.
Sosok lelaki di sampingnya itu pun berlari dan hilang dari pandangannya. Tak lama kemudian, ia juga meninggalkan tepi sungai itu.
Kepala Desa Thebe menyeruput secangkir teh hangat di sore hari yang sejuk. Kepalanya yang beruban disandarkan pada kursinya. Mata abu-abunya memandang gunung yang menjadi latar bangunan yang dijadikan kediaman sekaligus tempatnya bertugas mengepalai desa.
Ia meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping kursinya. Sejenak ia menghirup nafas dalam-dalam, mencoba merasakan sejuknya angin sore. Tanpa disadarinya, Ruud berdiri tanpa suara di belakangnya. Lelaki muda itu berdeham. Kepala desa langsung menoleh ke sumber suara.
”Ruud?” Mata tua Kepala Desa mengenali sosok yang berdiri di belakangnya. ”Kau tak mengetuk pintu?”
”Maaf. Tetapi pintunya terbuka.”
”Oh, aku lupa menutupnya,” Ia menertawai kealpaannya. ”Apa yang membuatmu datang kemari?”
”Tentang orang tuaku,” jawab Ruud singkat.
Lelaki tua itu tersenyum, “Ah, duduklah.”
Ruud menghampiri Kepala Desa dan duduk di sebelahnya.
”Ku kira kau akan bertanya tentang kematian mereka, bukan?”
”Apa yang Bibi ceritakan pada Anda?”
”Sama, sama,” Kepala Desa mengangguk-angguk. ”Sama seperti yang dikatakannya padamu.”
”Kecelakaan dalam bertugas?”
”Ya, tentu saja.”
”Tapi, bagaimana kejadiannya?” tanya Ruud.
”Bibimu mengatakan mereka terjerat semak di leher mereka. Memang saat itu, ada bekas luka pada leher ayah dan ibumu.”
”Anda percaya begitu saja?”
Wajah Kepala Desa berubah tegas. “Kau tak sopan pada bibi yang telah membesarkanmu.”
Ruud tersentak. ”Maafkan aku. Tapi, aku merasa apa yang diceritakan Bibi Fay aneh. Lagipula penduduk desa ini tampak tak menyukainya.”
 ”Kau tahu? Aku tak pernah melihat alasan untuk tidak memercayai Fay. Sebelumnya, ia tak pernah berbohong. Aku juga telah menyelidiki peristiwa itu. Yang bisa jadi petunjuk hanya luka di leher mereka. Aku berani menjamin kalau Fay tidak mungkin membunuh kedua orangtuamu.”
Pria tua itu bangun dari duduknya. Ia berjalan ke arah meja kerjanya dan kembali duduk di situ. Ruud pun mengikutinya. Ia berdiri di hadapan meja kerja Kepala Desa.
”Waktu itu Fay membawa tubuh tak bernyawa kedua orangtuamu kepadaku. Tak ada yang melihat kejadiaannya kecuali Fay sendiri. Ia berkata, kakak kandungnya, ibumu,” ucapnya seraya menunjuk Ruud. ”ingin membawakan makanan kepada ayahmu yang saat itu mendapat giliran di malam hari. Fay dan kau yang masih bayi pun turut ikut. Namun, sampai di menara penjaga, ayahmu tengah mendapat musibah. Ia terjerat perangkapnya sendiri. Ibumu berusaha menolongnya tetapi ia ikut terjebak. Fay bingung. Ia tak cepat mengambil tindakan karena waktu itu ia sedang menggendongmu. Pada akhirnya, ia menaruhmu di rumput yang aman dan berusaha menyelamatkan mereka. Namun, mereka sudah meninggal. Dengan sekuat tenaga, Fay mengeluarkan tubuh kedua orangtuamu dan menyeretnya ke tempat yang aman. Lalu, sembari menangis, ia melaporkannya padaku.”
Ruud terdiam. Ia tampak berpikir keras setelah mendengar cerita itu.
”Apa ayahku adalah orang yang biasa membuat kesalahan semacam itu?” tanyanya.
”Tidak. Ia orang yang teliti. Namun, musibah bisa terjadi pada siapa saja, Ruud. Termasuk pada ayahmu yang hebat itu.”
”Aku hanya berpikir kalau penduduk desa tidak memercayai bibiku karena ucapannya mengenai ’terjebak dalam perangkapnya sendiri’.”
”Itu masuk akal.” Kepala Desa mengelus-elus kumisnya. ”Lalu, apa pendapatmu mengenai kematian kedua orangtuamu? Apa kini kau sudah percaya dengan ucapan bibimu?”
Ruud menatap tajam Kepala Desa lalu ia menggelengkan kepalanya.
”Mungkin Anda menganggapku keras kepala. Tetapi itulah kenyataannya, aku tak bisa percaya dengan perkataan Bibi Fay.”
”Kalau begitu apa dugaanmu mengenai kasus itu?”
”Hanya dugaan. Memang belum ada buktinya. Tapi menurutku, orangtuaku dibunuh seseorang ataupun lebih dan Bibi dipaksa untuk menutup mulutnya,” jawab Ruud. “Aku menduga bukan tidak ada alasannya. Hidup diasuh Bibi, tentu aku akan mengenalnya. Ia tak pernah berbohong, tapi kalau menyangkut kematian kedua orangtuaku, pasti ada sinar aneh di matanya. Namun, sama seperti Anda, aku juga berani menjamin bahkan dengan nyawaku bahwa bukan Bibi yang membunuh orangtuaku.”
Kepala Desa tampak terkesima dengan penjelasan Ruud.
”Aku akan mencari bukti atas dugaanku itu,” lanjut Ruud.
”Ku dengar kau merencanakan untuk pergi bertualang. Apakah untuk alasan itu?”
”Salah satunya. Aku juga ingin mendapatkan kekuatan dan pengetahuan dari seluruh pelosok dunia ini.”
            ”Kebunku akan kehilangan dirimu,” Lelaki tua itu tersenyum.
            ”Maafkan aku,” ucap Ruud. ”Tanpa kebun itu, mungkin aku dan Bibi tak bisa melanjutkan hidup. Tapi, aku harus pergi.”
            ”Kapan waktu itu tiba?”
            ”Secepatnya.”
Ruud membungkukkan badannya pada Kepala Desa. Lalu, ia pun pergi meninggalkan ruangan  itu. Wajah tua Kepala Desa dihiasi senyuman yang tulus atas sosok yang baru saja pergi.
Dalam perjalanan kembali dari kantor Kepala Desa, Ruud terus memutar otaknya. Tak ada petunjuk, gumamnya dalam hati, yang ada hanya bekas jeratan di leher. Ruud terus berusaha membayangkan peristiwa yang menewaskan kedua orangtuanya berdasarkan apa yang tadi telah dikatakan oleh Kepala Desa. Lalu, harus mulai darimana perjalanannya nanti. Karena seperti apa yang telah dikatakannya pada orang-orang, tujuan utama perjalanannya memang untuk mengungkap kasus pembunuhan kedua orangtuanya.
Ia tiba di rumahnya. Kakinya langsung membawanya ke kamar. Langit memang sudah gelap. Tampaknya, bibinya juga sudah berada di kamarnya sendiri. Ruud merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak begitu empuk. Matanya memandang langit-langit kamar, namun pikirannya menerawang jauh.
Kemudian, didengarnya suara langkah kaki mendekati kamarnya. Buru-buru ia memiringkan badannya dan memejamkan mata pura-pura tertidur.
Fay mendorong pintu kamar keponakannya. Ia hanya berdiri di depan pintu sambil memandang sedih Ruud yang sedang tidur. Kemudian, ia menutup pintunya kembali. Sementara, Ruud membalikkan badannya, memandang pintu yang telah tertutup.
Beberapa hari setelahnya, matahari belum menunjukkan sinar kuningnya. Hanya semburat keemasan yang muncul dari timur. Ruud dan bibinya, Fay, telah bangun dari tidurnya.Wanita itu tengah menyodorkan mangkuk dengan asap yang mengepul kepada keponakannya.
”Ruud, makanlah dulu,” katanya. ”Ini bubur yang kubuat dengan tambahan tanaman obat dari kebun Kepala Desa. Sangat baik untukmu.”
”Terima kasih.”
Fay menghela napas. ”Apa kau yakin kau akan pergi hari ini?”
 ”Bibi tak perlu mengkhawatirkanku.”
Ruud makan dalam diam. Setelah itu, ia mengambil tas perbekalannya. Namun, badannya terhuyung karena tak menyangka tasnya begitu berat.
”Bibi, apa yang Bibi masukkan dalam tasku?” tanyanya dengan nada setengah memprotes.
“Ruud, kau bawa saja,” ucap Fay tegas. “Itu untuk perbekalanmu di jalan.”
”Tapi, Bi....”
”Ruud!” potong Fay tegas.
Tak bisa menolak, Ruud menggendong tasnya. Ia pun beranjak keluar diikuti dengan bibinya.
“Kau jahat sekali tidak memberitahu Lith kau akan pergi hari ini,” kata Fay.
Keponakannya terdiam.
”Tapi, aku sudah memberitahunya. Ia sangat terkejut dan sedih. Jadi, tunggulah ia sebentar di sini,” nasihat Fay.
Namun, ternyata Ruud tak perlu menunggu karena Lith muncul dengan napas yang terengah-engah. Gadis itu berdiri di hadapan Ruud.
”Kenapa kau tak memberitahuku?” tanyanya.
”Maaf,” ucap Ruud singkat.
Kepala Lith tertunduk sedih. “Kapan kau akan kembali?”
Ruud mengangkat tiga jarinya. ”Tunggu aku selama tiga tahun. Aku akan kembali.”
Setelah mengatakan itu, ia membalikkan badannya seraya berkata, ”Aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik.”
Kedua wanita itu memandangi tubuh Ruud yang berjalan meninggalkan desa.
”Ruud, hati-hati!” seru Fay.
Diam-diam, Lith mengikuti Ruud sampai ia melewati gerbang desa Thebe.

Thursday, October 14, 2010

The Averior Chapter 1 Part 4


Fay terlihat menahan amarahnya, ”Kau percaya?”
”Tidak. Aku tak pernah percaya,” jawab anak itu buru-buru.
”Lanjutkan makanmu.”
Mereka berdua kembali makan dalam diam. Setelah selesai, Fay membereskan alat makan tanpa bicara. Anak laki-laki itu memandang bibinya lalu ia kembali melontarkan pertanyaan.
”Orangtuaku meninggal karena kecelakaan apa?”
”Kecelakaan dalam bertugas.”
”Seperti apa?”
”Bibi tak tahu pasti.”
”Kenapa mereka bilang Bibi pembunuh?”
Fay membalikkan badannya menatap keponakannya. ”Kau masih memikirkannya? Mereka tak ada yang tahu, makanya mereka berbicara sembarangan.”
Wajah anak laki-laki itu menandakan ketidakpuasan.
”Kau percaya Bibi tak mungkin seorang pembunuh, kan?”
”Tentu, tapi..,”
”Sudah,” potong Fay. ”Bibi sudah memberitahu semuanya. Tak ada yang bisa dijelaskan lagi.”
Suara ketukan pintu memotong pembicaraan mereka. Fay segera menghampiri pintu depan. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan yang mengetuk pintu. Ia jarang bahkan bisa dikatakan nyaris tak pernah kedatangan tamu. Dengan hati-hati, ia mengintip dari jendela untuk melihat tamunya. Merasa aman, ia membuka pintu depan.
Sebuah keluarga berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang pria berambut coklat jerami dengan istrinya yang berwajah lembut, serta anak perempuan kecil berambut seperti ayahnya yang menyembunyikan dirinya di balik tubuh ibunya.
”Selamat malam,” sapa sang istri. ”Kami baru pindah ke Thebe hari ini.”
Fay tersenyum, ”Selamat malam. Penduduk baru rupanya. Di mana kalian tinggal?”
”Tak jauh dari sini. Di sana.” Wanita itu menunjuk dengan jarinya ke sebuah rumah yang jaraknya sekitar dua puluh lima meter darinya.
”Kita tak jauh rupanya,” Mata Fay menatap gadis kecil di belakang ibunya.
Menyadari tatapan Fay, wanita itu memperkenalkan putrinya, ”Ini Lith, anak perempuanku. Usianya tujuh tahun.”
”Sebaya dengan keponakanku,” ujar Fay. Lalu, ia berteriak ke dalam rumah. “Ruud, kemari.”
Tak lama kemudian, keponakannya sudah berdiri di sampingnya.
”Ini Ruud, keponakanku. Aku sendiri Fay. Salam kenal.”
Lith mengenali anak itu sebagai penolongnya tadi siang. Anak laki-laki itu pun mengenalinya. Mereka saling bertatapan. Kemudian, tanpa sadar, Lith menyembunyikan dirinya semakin dalam di balik tubuh ibunya.
”Baiklah, kami permisi dulu,” ucap ibu Lith. ”Kami mau menyapa tetangga lainnya.”
”Semoga kalian menikmati hidup di desa yang indah ini,” kata Fay.
”Terima kasih,” ucap Ayah Lith sambil berlalu. ”Desa ini memang indah.”
Fay dan Ruud sama-sama menatap keluarga itu. Selepas tiga sosok itu menghilang dalam kegelapan malam, Fay menatap keponakannya.
”Ruud, gadis kecil itu manis, ya?”
Anak itu tak memberi tanggapan apa-apa. Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah. Fay mengikutinya.
“Sepertinya gadis itu sedikit pemalu. Kau harus mengajaknya bermain. Aku jadi ingin tahu, bagaimana teman-temanmu?” tanya Fay ceria. ”Permainan apa yang biasa kau mainkan?”
Keponakannya masih terdiam.
”Kau tahu? Waktu Bibi kecil, Bibi paling suka bermain petak umpet. Ada lagi permainan mengejar teman dengan mata tertutup, tapi Bibi lupa nama permainannya. Masa kecil memang masanya bermain,” oceh Fay. Kenangan masa kecilnya kembali terlintas. ”Apa yang biasanya kau mainkan?”
Ruud menggeleng.
”Aku tak punya teman.”
”Kau bercanda?”
Mata hitam Ruud kini memancarkan kepedihan.
”Kau pasti anak yang nakal,ya? Kau pasti suka menjahili teman-temanmu?” Fay mulai memarahi keponakannya. ”Pantas saja tak ada yang mau berteman denganmu.”
Menanggapi omelan bibinya, Ruud memandangnya dengan tatapan marah.
”Bibi dikira pembunuh. Aku dibesarkan pembunuh.” Suara Ruud bergetar, entah menahan amarah atau tangis. ”Mereka menjauhi aku.”
Fay terpana.
”Aku mau tidur.” Ruud menghilang ke dalam kamarnya.
Rasa perih yang teramat sangat merambat di dada Fay. Air mata pun keluar dari matanya. Ia sama sekali tak pernah tahu kalau keponakannya menderita. Apa yang selama ini dilakukannya? Mencari nafkah. Tentu. Tapi, hanya itu yang dilakukannya. Ia pergi bekerja di perkebunan milik Kepala Desa dari pagi hingga sore setiap harinya. Ia tak pernah tahu apa-apa saja yang terjadi pada keponakannya, juga pada desa tempatnya tinggal.
Sebelumnya, pernyataannya tentang kematian kedua orangtua Ruud menimbulkan ketidakpercayaan warga Thebe. Ia juga sudah mendengar kalau warga mencurigai dirinya sebagai pembunuh. Hal itu tentu saja karena keterangan Fay yang menyatakan peristiwa terbunuhnya suami-istri itu sebagai kecelakaan tanpa adanya saksi mata lain. Namun, selain itu, Fay tidak tahu apa-apa lagi. Ia tenggelam dalam pekerjaannya yang berpenghasilan minim demi memenuhi kebutuhannya dan Ruud. Ia tak pernah tahu warga Thebe berpikir untuk menjauhi keponakan yang dibesarkannya. Ia tak pernah tahu selama ini anak laki-laki itu begitu kesepian. Ia tak pernah tahu apa-apa tentang Ruud.
Fay berjalan menuju kamarnya. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kalung. Kalung itu berwarna hitam. Bandulnya berupa sejenis batu berwarna perak yang berbentuk tetesan air. Tatapannya berubah sedih melihat kalung itu. Ia menggenggamnya dan berjalan menuju kamar Ruud.
“Ruud,” panggilnya lembut seraya membuka pintu.
Yang dipanggilnya tengah menatap langit melalui jendela kamarnya.
”Kau belum tidur?” tanya Fay. Ia duduk di ranjang.
Ruud menoleh. Lalu, ia menggeleng.
”Bibi ingin minta maaf padamu.”
Anak itu menunduk.
”Maaf selama ini Bibi tak pernah memperhatikanmu,” tambah Fay. ”Bibi tak pernah tahu selama ini kau kesepian. Maafkan Bibi.”
”Ta..pa..pa,” gumam Ruud tak jelas.
”Selama ini kau selalu berkeliaran di luar. Bibi pikir kau bermain.”
”Aku bermain dengan pohon, rumput, juga air sungai.”
Fay tersenyum. “Mereka memang teman yang baik.”
“Karena mereka tak pernah menjauhiku,” jelas Ruud.
Mata yang sewarna madu milik Fay menatap penuh sayang anak laki-laki di hadapannya.
”Bibi punya sesuatu untukmu,” Fay menunjukkan kalung yang digenggamnya kepada Ruud. ”Kalung ini dulu milik ayahmu.”
”Benarkah?”
”Tentu,” ucap Fay. ”Mau kupakaikan?”
Ruud mengangguk.
Sambil memakaikan kalung ke leher Ruud, Fay bercerita, ”Dulu ayahmu adalah penjaga gerbang desa. Ia bekerja di menara penjaga. Ia pria yang tampan, gagah, dan pemberani. Ia disegani di desa ini. Burung gagak pun tak akan ada yang berani hinggap di ladang jika ia berdiri di sana. Sementara, ibumu kebalikannya. Ia wanita yang amat lembut, penuh kasih, dan keibuan. Aku amat mengenalnya karena ibumu adalah kakak kandungku. Ia tak akan menyakiti seekor serangga pun.”
”Apa yang terjadi dengan mereka?”
”Mereka meninggal karena kecelakaan, Ruud,” jelas Fay.
Ruud terdiam sesaat sambil memandangi kalung ayahnya. Kemudian, ia berkata, “Ya, aku mengerti.”
Senyum merekah di wajah Fay. Ia mencium kening keponakannya.
“Tidurlah, Ruud,” Fay bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke arah pintu.
Ruud membaringkan tubuhnya di ranjang.
”Selamat malam, Ruud.”
”Malam, Bi.”
Fay menutup pintu. Ia berjalan ke ruang tengah. Berjam-jam ia habiskan dengan termenung. Ketika malam semakin larut, ia kembali beranjak ke kamar Ruud. Dibukanya pintu kamar dan ia melihat Ruud sudah tertidur pulas. Lama ia memandangi keponakannya. Tiba-tiba, air mata mengalir di wajahnya. Di ranjang itu, yang dilihatnya adalah sosok ayah Ruud alih-alih keponakannya. Kemiripan di antara ayah dan anak itu begitu nyata terlihat. Rasa rindu yang menyakitkan menyusup ke dalam hati Fay.
Wanita muda itu menutup pintu dan kembali menuju ruang tengah.