Thursday, December 30, 2010

The Averior Chapter 1 Part 7

 Maka, lelaki muda itu memulai perjalanannya memburu sang buronan. Berhari-hari ia berjalan sambil mencari petunjuk tentang keberadaan lelaki bermata besar itu. Tak ada yang tahu tentang keberadaannya. Ruud mulai putus asa. Tetapi kemudian, seorang pemuda memberi secercah harapan untuk Ruud.
”Kurasa tadi pagi aku melihatnya di gubuk tua di ujung timur desa ini,” ujar pemuda itu.
”Terima kasih banyak.”
Ruud baru saja akan melangkahkan kakinya ketika pemuda itu memanggilnya.
”Kau serius ingin menangkapnya?” tanyanya.
Pertanyaannya dijawab dengan anggukan singkat.
”Darimana kau berasal?” tanya pemuda itu lagi.
Kini, Ruud hanya diam.
”Aku tahu kau pasti bukan berasal dari desa ini. Tak ada yang berani mengejar penjahat itu meskipun hadiahnya lumayan besar.”
”Aku tak peduli.” Ruud menanggapinya dingin.
”Hey!” Pemuda itu tampak tersinggung dengan tanggapan Ruud. ”Yang jelas aku sudah memperingatkanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas kemudian langsung berlalu meninggalkan pemuda itu. Ia pun bergerak menuju tempat yang tadi diberitahukan.
Sesampainya di sana, Ruud mengamati gubuk tua dari balik pohon. Seseorang jelas berada di sana karena dari jendela kecilnya, ia bisa melihat ada cahaya. Ia mengendap-endap mendekati gubuk itu. Ia mengintip dari balik jendela. Itu dia, sedang tertidur di balik selimut usang. Meskipun matanya tengah terpejam, Ruud masih bisa mengenalinya sebagai orang yang wajahnya terpampang di selebaran. Ruud merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ranting yang sudah diserut hingga tajam dan melumurinya dengan getah pohon beracun yang dikumpulkannya di sebuah botol kecil. Dari jendela kecil itu, ia membidik. Lima detik kemudian ranting tajam itu sudah tertancap di lengan lelaki yang tertidur itu.
Sang buronan terbangun dengan kaget. Namun, keterkejutannya tak berhenti di situ. Begitu ia terbangun sebilah pedang sudah siap untuk membelah tenggorokannya.
”Cih! Siapa kau?” Ia menatap wajah dingin seorang pemuda di hadapannya.
”Urusanku hanya untuk menangkapmu,” ujar Ruud.
 Kebencian tersirat jelas di wajah sang buronan. Dalam gerakan yang tiba-tiba, ia memberontak. Ruud melompat mundur. Sang buronan menyambar pedangnya dan mulai menyerang Ruud. Mereka pun mulai terlibat adu pedang. Namun, tak lama gerakan sang buronan melambat.
”Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya panik.
”Ranting tadi,” jawab Ruud. ”kulumuri racun yang akan membuat tubuhmu mati rasa.”
Mata besar sang buronan bersinar penuh amarah.
“Kalau begitu aku akan menghabisimu sebelum tubuhku benar-benar mati rasa.”
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengayunkan pedang ke arah Ruud. Ruud yang tak terbiasa menggunakan pedang mulai merasa kesusahan. Namun, ia masih bisa menangkis serangan-serangan musuh.
Tiba-tiba, Ruud bergerak menjauh. Wajahnya tampak kaget. Ia menunduk memandang pedangnya. Retakan besar terlihat di pedang besi itu. Ia memutar otaknya berusaha memikirkan cara mengatasinya. Ia harus mengubah strategi. Ia akan menghindari setiap serangan musuhnya.

No comments:

Post a Comment