Thursday, December 30, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 5

            ”Kanao-kun,” Yuna menyambutnya di depan pintu.
            ”Ada apa, Yun.................?” Lengan Kanao langsung ditarik sebelum ia mampu menyelesaikan pertanyaannya.
            ”Kau tahu?” tanya Yuna seraya menarik Kanao keluar dari rumahnya. ”Kalau kau tinggal di desa, seharusnya kau memperkenalkan diri kepada seluruh penduduk desa.”
            ”Tapi, Yuna,” protes Kanao. ”Aku......”
            ”Kau tentunya tidak mau dianggap sombong oleh warga desa, kan?” Yuna kembali memotong perkataan Kanao.
            Kanao pun menyerah ditarik Yuna sampai tiba di sebuah rumah yang tak jauh dari gereja dan rumah tempat tinggal Yuna. Gadis kecil itu memencet bel rumah. Beberapa menit mereka menunggu sampai akhirnya seorang lelaki muda membuka pintu.
            ”Shuichi,” panggil Yuna. ”Cepat panggil orangtuamu. Kanao-kun mau memperkenalkan diri.”
            Bingung, Shuichi kembali masuk ke rumahnya dan kembali dengan keluarganya.
            ”Nah, ini keluarga Mizuno,” Yuna memperkenalkan mereka.
            ”Kau pasti Kanao, kan, yang aktor itu?” Ibu Shuichi tampak senang. ”Wah, kau benar-benar tampan.”
            Okaa-san!” seru Kanao, malu dengan ucapan ibunya.
            ”Ini Mizuno Shuichi,” Kini, Yuna memperkenalkan Shuichi. ”Ia seumuran denganku.”
            Hajimemashite,” ujar Kanao seraya membungkukkan badannya.
            Shuichi balas membungkukkan badan.
            ”Ayo Kanao-kun! Kita ke rumah yang lainnya,” ajak Yuna. ”Arigatou, Mizuno-san.”
            Mereka pergi mengunjungi rumah para penduduk desa yang jumlahnya tak begitu banyak. Satu hal yang Kanao sadari, anak muda di desa ini hanyalah Mizuno Shuichi dan Yuna sendiri. Penduduk di sini didominasi orang-orang berumur di atas lima puluh tahun serta sisanya ada beberapa anak kecil dan orang dewasa yang rata-rata sudah menikah.
            ”Sudah,” ujar Yuna riang selesai mereka berkeliling desa. ”Semua penduduk sudah kita kunjungi. Tak banyak, kan?”
            Kanao mengangguk. ”Arigatou, Yuna-chan.”
            Dou itashimashite,” balas Yuna. ”Aku senang kau mau ikut denganku untuk berkenalan dengan penduduk desa.”
            Kanao teringat Tomoe yang masih berada di rumahnya. ”Yuna-chan, aku harus segera kembali ke rumah. Sebenarnya, tadi aku ada tamu.”
            ”Oh, benarkah? Siapa itu? Apakah artis juga?” tanya Yuna penasaran.
            ”Ia seorang model. Kau mau bertemu dengannya?” ajak Kanao.
            Yuna mengangguk senang. ”Hai.”
            Ia pun mengikuti Kanao sampai ke rumahnya. Tiba di sana, ia masuk ke dalam dan melihat seorang wanita yang sudah tak asing lagi.
            ”Kau model iklan parfum, bukan?” tanya Yuna.
            ”Kau mengenalnya?” tanya Kanao heran.
            ”Ya, aku selalu melewati papan iklan besar parfum itu jika ingin bersekolah. Wanita ini adalah modelnya.”
            Tomoe bangun dari posisi duduknya. Ia menghampiri Yuna.
            Hajimemashite,” ia memperkenalkan diri. ”Namaku Fujiwara Tomoe. Aku senang kau mengenalku.”
            Hajimemashite. Aku Yuna.”
            ”Kau mau bergabung bersama kami?” ajak Tomoe. ”Tadi kami sedang minum teh.”
            ”Tidak, terima kasih. Aku harus pergi sekolah besok. Ini sudah terlalu malam,” ucap Yuna. ”Aku permisi dulu.”
            Ia segera beranjak ke pintu depan.
            Sesaat sebelum ia menutup pintu keluar, ia berhenti sejenak dan berkata, ”Maaf, tadi aku menarik Kanao-kun keluar. Aku tidak tahu kau sedang berkunjung ke sini.”
            ”Memang kau kemana tadi?” tanya Tomoe saat Yuna sudah tak terlihat.
            ”Diajak memperkenalkan diri ke penduduk desa, ” jawab Kanao. ”Gomen, aku jadi meninggalkanmu.”
            ”Gadis yang menarik,” Tomoe berkomentar.
            ”Aku sedikit kecewa saat ia mengenalmu.”
            Tomoe menatap Kanao dengan bingung.
            ”Ia tidak mengenalku,” jelas Kanao. ”Seharusnya, kan, popularitasku lebih tinggi daripada kau.”
            Tomoe tertawa. ”Kau terima saja kekalahanmu kali ini.”
            Sementara di rumahnya, Yuna tengah berbaring di futon. Matanya belum terpejam.
            ”Fujiwara Tomoe,” gumamnya. ”Minum teh di rumah Kanao-kun? Mereka pasti dekat.”
            Yuna menghembuskan nafas panjang, lalu ia memejamkan matanya. Sunyi selama beberapa menit. Kemudian, tiba-tiba,
            ”Wah, ia cantik sekali!” teriak Yuna kesal.

The Averior Chapter 1 Part 7

 Maka, lelaki muda itu memulai perjalanannya memburu sang buronan. Berhari-hari ia berjalan sambil mencari petunjuk tentang keberadaan lelaki bermata besar itu. Tak ada yang tahu tentang keberadaannya. Ruud mulai putus asa. Tetapi kemudian, seorang pemuda memberi secercah harapan untuk Ruud.
”Kurasa tadi pagi aku melihatnya di gubuk tua di ujung timur desa ini,” ujar pemuda itu.
”Terima kasih banyak.”
Ruud baru saja akan melangkahkan kakinya ketika pemuda itu memanggilnya.
”Kau serius ingin menangkapnya?” tanyanya.
Pertanyaannya dijawab dengan anggukan singkat.
”Darimana kau berasal?” tanya pemuda itu lagi.
Kini, Ruud hanya diam.
”Aku tahu kau pasti bukan berasal dari desa ini. Tak ada yang berani mengejar penjahat itu meskipun hadiahnya lumayan besar.”
”Aku tak peduli.” Ruud menanggapinya dingin.
”Hey!” Pemuda itu tampak tersinggung dengan tanggapan Ruud. ”Yang jelas aku sudah memperingatkanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas kemudian langsung berlalu meninggalkan pemuda itu. Ia pun bergerak menuju tempat yang tadi diberitahukan.
Sesampainya di sana, Ruud mengamati gubuk tua dari balik pohon. Seseorang jelas berada di sana karena dari jendela kecilnya, ia bisa melihat ada cahaya. Ia mengendap-endap mendekati gubuk itu. Ia mengintip dari balik jendela. Itu dia, sedang tertidur di balik selimut usang. Meskipun matanya tengah terpejam, Ruud masih bisa mengenalinya sebagai orang yang wajahnya terpampang di selebaran. Ruud merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ranting yang sudah diserut hingga tajam dan melumurinya dengan getah pohon beracun yang dikumpulkannya di sebuah botol kecil. Dari jendela kecil itu, ia membidik. Lima detik kemudian ranting tajam itu sudah tertancap di lengan lelaki yang tertidur itu.
Sang buronan terbangun dengan kaget. Namun, keterkejutannya tak berhenti di situ. Begitu ia terbangun sebilah pedang sudah siap untuk membelah tenggorokannya.
”Cih! Siapa kau?” Ia menatap wajah dingin seorang pemuda di hadapannya.
”Urusanku hanya untuk menangkapmu,” ujar Ruud.
 Kebencian tersirat jelas di wajah sang buronan. Dalam gerakan yang tiba-tiba, ia memberontak. Ruud melompat mundur. Sang buronan menyambar pedangnya dan mulai menyerang Ruud. Mereka pun mulai terlibat adu pedang. Namun, tak lama gerakan sang buronan melambat.
”Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya panik.
”Ranting tadi,” jawab Ruud. ”kulumuri racun yang akan membuat tubuhmu mati rasa.”
Mata besar sang buronan bersinar penuh amarah.
“Kalau begitu aku akan menghabisimu sebelum tubuhku benar-benar mati rasa.”
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengayunkan pedang ke arah Ruud. Ruud yang tak terbiasa menggunakan pedang mulai merasa kesusahan. Namun, ia masih bisa menangkis serangan-serangan musuh.
Tiba-tiba, Ruud bergerak menjauh. Wajahnya tampak kaget. Ia menunduk memandang pedangnya. Retakan besar terlihat di pedang besi itu. Ia memutar otaknya berusaha memikirkan cara mengatasinya. Ia harus mengubah strategi. Ia akan menghindari setiap serangan musuhnya.