Friday, August 19, 2011

Boring

            Jam delapan tepat. Aku buru-buru memasukkan buku kuliahku ke dalam tas secara serampangan. Aku tenggak segelas air putih. Lalu, aku pun bangkit meninggalkan kamar kos berukuran 2x3. Tergesa-gesa, aku berlari menuju kampus yang jaraknya tak jauh dari tempatku tinggal selama merantau di kota orang.
            Jam delapan lewat sepuluh, aku lirik jam di handphoneku. Di depan pintu kelas aku berdiri. Ternyata sang dosen belum datang. Aku menghela napas. Untung, ujarku dalam hati. Aku masuk dengan langkah santai, lelah setelah berlarian sepanjang jalan.
            ”Hai!” sapa teman akrabku.
            ”Hai!” jawabku. ”Udah lama?”
            ”Apanya?”
            ”Datangnya.”
            ”Oh,” ia mengangguk. ”Dari jam delapan kurang lima belas.”
            Aku mengangguk. Dalam hati aku sadar tadi itu percakapan bodoh dan tak bermutu.
            Belum lama aku duduk, sang dosen pun datang. Dengan gaya santainya, ia menaruh tas di atas meja. Dua jam akan dipenuhi dengan ocehannya. Aku menyandarkan punggungku ke punggung kursi. Mataku hanya memandang sang dosen dalam hitungan detik. Selanjutnya, arah pandang berbelok 45° ke dinding putih kusam. Semut-semut berbaris rapi di sana. “HUBUNGI AKU DI 085XXX” dan “ASSHOLE” yang menodai sebagian besar permukaan dinding itu langsung menyita perhatianku selanjutnya. Orang bodoh kurang kerjaan pasti yang menulisnya. Aku memang kurang kerjaan tapi aku tidak bodoh. Jadi, aku tak akan mengikuti jejak mereka.
            Suara sayup nyanyian merdu terdengar telingaku. Makin lama makin keras. Mataku terbelalak saat suara itu makin nyata terdengar.
            ”Dengar nggak? bisikku.
            ”Apa?” tanya temanku heran.
            ”Ada orang nyanyi.”
            Temanku memicingkan matanya tanda ia berkonsentrasi mendengarkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia menggelengkan kepalanya.
            Aku merasakan efek suara merdu membuat bulu kuduk merinding. Aneh temanku tak bisa mendengarnya. Kemudian suara itu menghilang bersamaan dengan saat giliranku menjawab pertanyaan dari sang dosen.  Buru-buru aku melihat soal yang ada di kertas di hadapanku. Ku jawab dengan penuh keyakinan. Namun, apa daya dosen itu tak mendengarnya karena suara yang terlampau kecil. Sang dosen pun menjawab sendiri soal itu. Ah, sudahlah, pikirku. Aku pun kembali berkonsentrasi terhadap suara merdu yang baru saja hilang. Benar saja, suara itu terdengar lagi.
            Aku bangkit berdiri setelah perdebatan sengit di dalam pikiranku antara diam saja atau menyelidikinya. Langkah kakiku bergerak dan mulutku mengucap izin pergi ke WC. Aku keluar dari kelas.
            Mataku menyalang mengamati keadaan sekitar. Lorong gelap yang sepi. Tak lazim karena biasanya ramai dengan anak-anak yang menunggu kuliah selanjutnya. Aku dengarkan suara yang kini sayup itu. Sepertinya berasal dari ruang kelas pojok. Perlahan, aku dekati ruang itu. Dengan jantung yang berdegup, aku mengintip ke dalamnya. Pemandangan di dalamnya membuatku merinding.
            Seorang wanita berambut panjang berdiri menghadap ke jendela. Gaunnya merah panjang. Rambutnya pirang. Sosoknya persis seperti wanita bangsawan di zaman Victoria. Dari bibirnya, teruntai alunan nada merdu. Melihatnya membuatku membeku di depan kelas. Hantu, pikirku.
            Wanita itu berhenti bernyanyi. Ia melirik ke arahku. Ia menghampiriku. Aku menelan ludah.
            You found me,” ucapnya.
            Aku bermaksud menanyakan siapa dia tapi tak ada kata-kata yang sanggup keluar dari mulutku.
            You’ve heard that. Then, sing that lullaby to my daughter,” pintanya. “I can’t found her.
            Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan ruangan. Aku mengikutinya sampai ia menghilang di ujung lorong. Tinggal aku berdiri di ruang kelas. Lalu, apa yang harus aku lakukan?
            Langkah lunglai membawaku kembali ke kelas. Aku kembali duduk dan memandang kertas soal yang sedang dibahas.
            ”Eh!” panggil temanku. ”Mau kue?”
            Ia menyodorkan tempat makannya padaku.
            Dengan wajah sumringah aku mengambil sepotong kue seraya mengucapkan terimakasih.  Sembunyi-sembunyi dari sang dosen, aku gigit kue itu. Sampai tinggal gigitan terakhir aku sadar akan satu hal.
            ”Kismis?!” protesku.
            Temanku mengangguk.
            Kutunjukkan wajah jijik padanya.
            ”Nggak suka,ya?”
            ”Banget,” ujarku sambil memberikan segigit terakhir kue darinya.
            ”Payah,” ejeknya.
            Hiburan yang gagal, pikirku. Aku memandang ke arah pintu. Lewat seorang gadis kecil bergaun panjang, berambut pirang, dan membawa boneka. Kata-kata “Then, sing that lullaby to my daughter” terngiang di telingaku. Mungkinkah itu anaknya?
            Kali ini, tak ada perdebatan sengit. Aku tetap duduk diam di kursiku. Siapa mereka aku tidak tahu. Lagipula, aku tidak hafal lagu tadi. Aku berusaha memfokuskan pikiranku ke kelas yang kuikuti sekarang.
            Tiba-tiba hawa aneh menghembus leherku. Belum sempat aku menoleh, tangan kecil nan putih menjulur lalu memegang tubuhku dari belakang. Kepala seorang gadis kecil bersandar di bahuku. Bibirnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku berujar, ”Sing it!”.
            Aku membeku. Mataku mengelilingi ruang kelas. Tak ada yang sadar. Sang dosen masih terus berceloteh. Teman di sebelahku masih tetap memandang penuh perhatian kepadanya. Panik, aku berusaha mengingat nada yang tadi dinyanyikan ibunya. Dengan suara tak indahku, aku menyanyikannya. Kuakui ada beberapa nada yang aku karang. Namun, gadis kecil itu tampak puas. Ia mengendurkan pegangannya dari tubuhku. Tak lama ia pun melepasnya. Saat aku menengok ke belakang, gadis itu sudah menghilang.
            Kelegaan serasa meledak dari dadaku. Belum lama rasa itu bertengger di dadaku, dua makhluk itu lewat di depan pintu ruang kelasku. Saling bergandengan dengan pandangan lurus ke depan. Tak melirik sama sekali ke tempatku duduk, apalagi mengucapkan terimakasih. Hanya sekilas mereka lewat tapi mataku tak kunjung lepas dari titik itu.
            Ya, bagus, gumamku dalam hati. Senyum puas menghiasi wajahku. Kembali suara sang dosen memasuki telingaku. Kembali semut-semut yang berbaris rapi, juga kata-kata kotor di dinding menghiasi penglihatanku. Aku telah kembali dari imajinasi panjangku. Kebosanan pun kembali melanda.
            Selanjutnya, apa lagi, ya? tanyaku dalam hati.
 gambar oleh:anotherwanderer

The Averior Chapter 1 Part 8

Sang buronan kembali menyerang. Ruud melompat mundur dan berlari ke belakang musuhnya. Tetapi, dengan segera sang buronan membalikkan badannya dan kembali menyerang. Terpaksa Ruud menangkisnya. Tak lama, ia pun kembali mundur.
”Kenapa kau terus menghindar?” Sang buronan tertawa mengejek. ”Kau tak menyangka, ya, aku masih bisa bergerak?”
Ia kembali melancarkan serangan dan Ruud kembali menghindar. Kali ini ke kiri sang buronan. Namun, dengan secepat kilat sang buronan kembali mengayunkan pedangnya ke arah Ruud. Serangan pertama tadi jebakan. Sebelumnya, ia sudah menebak ke arah mana Ruud akan menghindar. Ia telah mengatur serangan untuk memojokkannya ke sudut dimana Ruud hanya bisa menghindar ke satu arah. Ruud menahan serangannya dengan pedang dan...
PRANG...
Pedang Ruud patah dan jatuh ke lantai. Sang buronan menertawakannya.
”Kau masih terlalu cepat seribu tahun untuk menangkapku.”
Ia bersiap melancarkan serangan terakhirnya pada Ruud yang kini tak bersenjata.
Saat ujung pedangnya hanya tinggal beberapa senti dari wajah Ruud, gerakannya terhenti. Matanya terbelalak kaget. Lalu, ia pun jatuh di hadapan Ruud. Di belakangnya seorang pemuda berdiri dengan pedang teracung. Ujung pedangnya berlumuran darah.
“Kau telah berhutang nyawa padaku,” ucap pemuda itu sambil memasukkan pedang ke sarungnya.
Ruud menatapnya lekat-lekat. Di benaknya terlintas banyak pertanyaan.
Belum sempat Ruud bertanya, pemuda itu berkata, “Kau pasti ingin bertanya siapa aku, darimana, dan kenapa membunuh buronan ini.”
“Ia mati?” tanya Ruud.
Pemuda itu tersenyum. ”Belum tapi segera. Aku telah membuat lubang besar di paru-parunya.”
Ia berjalan ke tumpukan kayu di sudut gubuk dan duduk di sana. “Aku lanjutkan. Tapi sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku ingin memberitahumu beberapa hal.”
Ruud diam tapi tetap waspada.
”Pertama, aku ingin memujimu karena kau pasti akan menang kalau pedangmu tak patah. Aku yakin itu,” lanjut pemuda itu. ”Kedua, kau telah ditipu oleh si pandai besi. Kalung yang kau berikan jauh lebih berharga daripada nyawamu. Bandulnya terbuat dari material langka dan mahal. Mungkin sekarang ia sudah kabur membawa kalungmu. Selain itu, kau tak bisa mendapatkan barang bagus di desa ini. Sangat wajar kalau pedangmu mudah patah.”
”Sejak kapan kau membuntutiku?” tanya Ruud tajam.
”Sebenarnya aku tak ada niat membuntutimu. Tapi melihatmu di pandai besi membuatku penasaran apa yang akan kau lakukan,” jelasnya. ”Aku sedikit setuju dengan pendapat buronan itu kalau kau terlalu cepat seribu tahun untuk menangkapnya. Kau masih terlalu polos dan tidak berpengalaman.”
”Siapa kau dan apa tujuanmu?”
Pemuda itu memandang Ruud tajam. ”Ikutlah denganku. Tak perlu seribu tahun untuk membuatmu kuat. Selain itu, mungkin kau ingin dengar siapa pembunuh orangtuamu.”
Mata Ruud terbelalak kaget.
”Tak perlu waktu lama untuk menyadari kau adalah anak penjaga desa Thebe yang meninggal secara misterius tujuh belas tahun yang lalu. Kau begitu mirip dengan ayahmu.”
Senyum kembali menghiasi wajah pemuda itu.
”Pikirkan baik-baik,” ujarnya
Ruud memandang pemuda misterius di hadapannya.

gambar oleh:
Chloa

Thursday, August 18, 2011

Kepada Sang Waktu

 
Sang waktu yang pantang menyerah,
yang pantang mundur
dan terus maju
tanpa menoleh ke belakang.

Izinkanlah aku untuk membuka mulut
mengatakan permohonan
satu permohonan,
hanya satu.

Aku mohon,
perlambatlah gerakanmu,
perlambatlah detikmu,
menitmu,
jammu,
harimu,
bulanmu,
dan tahunmu.

Jika kau bertanya, "Mengapa?"
aku kan menjawab,
"Karena aku ingin kau berjalan lambat
amat lambat
saat ku melihat dirinya,
melihat wajahnya,
melihat senyumnya
yang amat berarti untukku."

Jika kau bertanya, "Untuk apa?"
aku kan menjawab,
"Untuk memandang wajahnya
selama mungkin aku bisa,
selambat mungkin kau bisa,
sedapat mungkin dia bisa."

Sebab,
mau tak mau
aku harus berpisah dengannya
di suatu hari nanti
suatu hari yang pasti
yang kutahu pasti
kapan hari itu kan datang.

Maka,
biarkan aku memandang puas wajahnya
biarkan aku memandang puas senyumnya
tawanya,
candanya,
dan segala sesuatu dari dirinya
sebelum hari itu datang
memisahkan aku dengan dirinya.

Waktu,
perlambatlah gerakanmu
biarkan aku untuk mempersiapkan diri
secara lambat
secara pelan
karna mungkin
sesudah hari itu,
aku tak akan bertemu dengan dirinya lagi
sampai akhir hidupku.

(harapan bodoh seorang gadis SMP)
ditulis di Jakarta tahun 2005

gambar oleh: escaped-emotions