Sang waktu yang pantang menyerah,
yang pantang mundur
dan terus maju
tanpa menoleh ke belakang.
Izinkanlah aku untuk membuka mulut
mengatakan permohonan
satu permohonan,
hanya satu.
Aku mohon,
perlambatlah gerakanmu,
perlambatlah detikmu,
menitmu,
jammu,
harimu,
bulanmu,
dan tahunmu.
Jika kau bertanya, "Mengapa?"
aku kan menjawab,
"Karena aku ingin kau berjalan lambat
amat lambat
saat ku melihat dirinya,
melihat wajahnya,
melihat senyumnya
yang amat berarti untukku."
Jika kau bertanya, "Untuk apa?"
aku kan menjawab,
"Untuk memandang wajahnya
selama mungkin aku bisa,
selambat mungkin kau bisa,
sedapat mungkin dia bisa."
Sebab,
mau tak mau
aku harus berpisah dengannya
di suatu hari nanti
suatu hari yang pasti
yang kutahu pasti
kapan hari itu kan datang.
Maka,
biarkan aku memandang puas wajahnya
biarkan aku memandang puas senyumnya
tawanya,
candanya,
dan segala sesuatu dari dirinya
sebelum hari itu datang
memisahkan aku dengan dirinya.
Waktu,
perlambatlah gerakanmu
biarkan aku untuk mempersiapkan diri
secara lambat
secara pelan
karna mungkin
sesudah hari itu,
aku tak akan bertemu dengan dirinya lagi
sampai akhir hidupku.
(harapan bodoh seorang gadis SMP)
ditulis di Jakarta tahun 2005
gambar oleh: escaped-emotions

No comments:
Post a Comment