Friday, August 19, 2011

The Averior Chapter 1 Part 8

Sang buronan kembali menyerang. Ruud melompat mundur dan berlari ke belakang musuhnya. Tetapi, dengan segera sang buronan membalikkan badannya dan kembali menyerang. Terpaksa Ruud menangkisnya. Tak lama, ia pun kembali mundur.
”Kenapa kau terus menghindar?” Sang buronan tertawa mengejek. ”Kau tak menyangka, ya, aku masih bisa bergerak?”
Ia kembali melancarkan serangan dan Ruud kembali menghindar. Kali ini ke kiri sang buronan. Namun, dengan secepat kilat sang buronan kembali mengayunkan pedangnya ke arah Ruud. Serangan pertama tadi jebakan. Sebelumnya, ia sudah menebak ke arah mana Ruud akan menghindar. Ia telah mengatur serangan untuk memojokkannya ke sudut dimana Ruud hanya bisa menghindar ke satu arah. Ruud menahan serangannya dengan pedang dan...
PRANG...
Pedang Ruud patah dan jatuh ke lantai. Sang buronan menertawakannya.
”Kau masih terlalu cepat seribu tahun untuk menangkapku.”
Ia bersiap melancarkan serangan terakhirnya pada Ruud yang kini tak bersenjata.
Saat ujung pedangnya hanya tinggal beberapa senti dari wajah Ruud, gerakannya terhenti. Matanya terbelalak kaget. Lalu, ia pun jatuh di hadapan Ruud. Di belakangnya seorang pemuda berdiri dengan pedang teracung. Ujung pedangnya berlumuran darah.
“Kau telah berhutang nyawa padaku,” ucap pemuda itu sambil memasukkan pedang ke sarungnya.
Ruud menatapnya lekat-lekat. Di benaknya terlintas banyak pertanyaan.
Belum sempat Ruud bertanya, pemuda itu berkata, “Kau pasti ingin bertanya siapa aku, darimana, dan kenapa membunuh buronan ini.”
“Ia mati?” tanya Ruud.
Pemuda itu tersenyum. ”Belum tapi segera. Aku telah membuat lubang besar di paru-parunya.”
Ia berjalan ke tumpukan kayu di sudut gubuk dan duduk di sana. “Aku lanjutkan. Tapi sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku ingin memberitahumu beberapa hal.”
Ruud diam tapi tetap waspada.
”Pertama, aku ingin memujimu karena kau pasti akan menang kalau pedangmu tak patah. Aku yakin itu,” lanjut pemuda itu. ”Kedua, kau telah ditipu oleh si pandai besi. Kalung yang kau berikan jauh lebih berharga daripada nyawamu. Bandulnya terbuat dari material langka dan mahal. Mungkin sekarang ia sudah kabur membawa kalungmu. Selain itu, kau tak bisa mendapatkan barang bagus di desa ini. Sangat wajar kalau pedangmu mudah patah.”
”Sejak kapan kau membuntutiku?” tanya Ruud tajam.
”Sebenarnya aku tak ada niat membuntutimu. Tapi melihatmu di pandai besi membuatku penasaran apa yang akan kau lakukan,” jelasnya. ”Aku sedikit setuju dengan pendapat buronan itu kalau kau terlalu cepat seribu tahun untuk menangkapnya. Kau masih terlalu polos dan tidak berpengalaman.”
”Siapa kau dan apa tujuanmu?”
Pemuda itu memandang Ruud tajam. ”Ikutlah denganku. Tak perlu seribu tahun untuk membuatmu kuat. Selain itu, mungkin kau ingin dengar siapa pembunuh orangtuamu.”
Mata Ruud terbelalak kaget.
”Tak perlu waktu lama untuk menyadari kau adalah anak penjaga desa Thebe yang meninggal secara misterius tujuh belas tahun yang lalu. Kau begitu mirip dengan ayahmu.”
Senyum kembali menghiasi wajah pemuda itu.
”Pikirkan baik-baik,” ujarnya
Ruud memandang pemuda misterius di hadapannya.

gambar oleh:
Chloa

No comments:

Post a Comment