Kembali ke masa sepuluh tahun kemudian. Lith dan Ruud masih duduk di tepi sungai. Cukup lama mereka di sana. Sesekali mereka berbicara, mengenai keadaan keluarga, masa kecil, dan rencana perjalanan Ruud. Lith pun sadar betapa cepat ia akan kehilangan sahabat lelakinya itu.
“Bagaimana dengan Bibi Fay?” tanya Lith. “Maksudku, apa ia masih tak mengizinkanmu?”
”Bagaimanapun juga aku akan tetap pergi.”
”Tapi kalau bibimu melarang?”
”Aku mungkin orang yang keras kepala. Tapi aku akan tetap pergi,” ucap Ruud tegas. ”Bibi Fay hanya terlalu mengkhawatirkanku.”
Gadis di sampingnya terdiam.
”Kau sudah sering kuceritakan. Bertualang itu cita-citaku sejak kecil,” tambah Ruud. ”Aku pikir 17 tahun adalah usia yang tepat.”
”Aku menghargai apapun keputusanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas. Lalu, mereka berdua kembali terdiam menatap sungai.
”Lith,” panggil Ruud beberapa lama kemudian.
Mata Lith menatap Ruud.
”Aku ada urusan penting,” kata Ruud. ”Terima kasih atas bukunya.”
”Ya,” Lith menggangguk.
Sosok lelaki di sampingnya itu pun berlari dan hilang dari pandangannya. Tak lama kemudian, ia juga meninggalkan tepi sungai itu.
Kepala Desa Thebe menyeruput secangkir teh hangat di sore hari yang sejuk. Kepalanya yang beruban disandarkan pada kursinya. Mata abu-abunya memandang gunung yang menjadi latar bangunan yang dijadikan kediaman sekaligus tempatnya bertugas mengepalai desa.
Ia meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping kursinya. Sejenak ia menghirup nafas dalam-dalam, mencoba merasakan sejuknya angin sore. Tanpa disadarinya, Ruud berdiri tanpa suara di belakangnya. Lelaki muda itu berdeham. Kepala desa langsung menoleh ke sumber suara.
”Ruud?” Mata tua Kepala Desa mengenali sosok yang berdiri di belakangnya. ”Kau tak mengetuk pintu?”
”Maaf. Tetapi pintunya terbuka.”
”Oh, aku lupa menutupnya,” Ia menertawai kealpaannya. ”Apa yang membuatmu datang kemari?”
”Tentang orang tuaku,” jawab Ruud singkat.
Lelaki tua itu tersenyum, “Ah, duduklah.”
Ruud menghampiri Kepala Desa dan duduk di sebelahnya.
”Ku kira kau akan bertanya tentang kematian mereka, bukan?”
”Apa yang Bibi ceritakan pada Anda?”
”Sama, sama,” Kepala Desa mengangguk-angguk. ”Sama seperti yang dikatakannya padamu.”
”Kecelakaan dalam bertugas?”
”Ya, tentu saja.”
”Tapi, bagaimana kejadiannya?” tanya Ruud.
”Bibimu mengatakan mereka terjerat semak di leher mereka. Memang saat itu, ada bekas luka pada leher ayah dan ibumu.”
”Anda percaya begitu saja?”
Wajah Kepala Desa berubah tegas. “Kau tak sopan pada bibi yang telah membesarkanmu.”
Ruud tersentak. ”Maafkan aku. Tapi, aku merasa apa yang diceritakan Bibi Fay aneh. Lagipula penduduk desa ini tampak tak menyukainya.”
”Kau tahu? Aku tak pernah melihat alasan untuk tidak memercayai Fay. Sebelumnya, ia tak pernah berbohong. Aku juga telah menyelidiki peristiwa itu. Yang bisa jadi petunjuk hanya luka di leher mereka. Aku berani menjamin kalau Fay tidak mungkin membunuh kedua orangtuamu.”
Pria tua itu bangun dari duduknya. Ia berjalan ke arah meja kerjanya dan kembali duduk di situ. Ruud pun mengikutinya. Ia berdiri di hadapan meja kerja Kepala Desa.
”Waktu itu Fay membawa tubuh tak bernyawa kedua orangtuamu kepadaku. Tak ada yang melihat kejadiaannya kecuali Fay sendiri. Ia berkata, kakak kandungnya, ibumu,” ucapnya seraya menunjuk Ruud. ”ingin membawakan makanan kepada ayahmu yang saat itu mendapat giliran di malam hari. Fay dan kau yang masih bayi pun turut ikut. Namun, sampai di menara penjaga, ayahmu tengah mendapat musibah. Ia terjerat perangkapnya sendiri. Ibumu berusaha menolongnya tetapi ia ikut terjebak. Fay bingung. Ia tak cepat mengambil tindakan karena waktu itu ia sedang menggendongmu. Pada akhirnya, ia menaruhmu di rumput yang aman dan berusaha menyelamatkan mereka. Namun, mereka sudah meninggal. Dengan sekuat tenaga, Fay mengeluarkan tubuh kedua orangtuamu dan menyeretnya ke tempat yang aman. Lalu, sembari menangis, ia melaporkannya padaku.”
Ruud terdiam. Ia tampak berpikir keras setelah mendengar cerita itu.
”Apa ayahku adalah orang yang biasa membuat kesalahan semacam itu?” tanyanya.
”Tidak. Ia orang yang teliti. Namun, musibah bisa terjadi pada siapa saja, Ruud. Termasuk pada ayahmu yang hebat itu.”
”Aku hanya berpikir kalau penduduk desa tidak memercayai bibiku karena ucapannya mengenai ’terjebak dalam perangkapnya sendiri’.”
”Itu masuk akal.” Kepala Desa mengelus-elus kumisnya. ”Lalu, apa pendapatmu mengenai kematian kedua orangtuamu? Apa kini kau sudah percaya dengan ucapan bibimu?”
Ruud menatap tajam Kepala Desa lalu ia menggelengkan kepalanya.
”Mungkin Anda menganggapku keras kepala. Tetapi itulah kenyataannya, aku tak bisa percaya dengan perkataan Bibi Fay.”
”Kalau begitu apa dugaanmu mengenai kasus itu?”
”Hanya dugaan. Memang belum ada buktinya. Tapi menurutku, orangtuaku dibunuh seseorang ataupun lebih dan Bibi dipaksa untuk menutup mulutnya,” jawab Ruud. “Aku menduga bukan tidak ada alasannya. Hidup diasuh Bibi, tentu aku akan mengenalnya. Ia tak pernah berbohong, tapi kalau menyangkut kematian kedua orangtuaku, pasti ada sinar aneh di matanya. Namun, sama seperti Anda, aku juga berani menjamin bahkan dengan nyawaku bahwa bukan Bibi yang membunuh orangtuaku.”
Kepala Desa tampak terkesima dengan penjelasan Ruud.
”Aku akan mencari bukti atas dugaanku itu,” lanjut Ruud.
”Ku dengar kau merencanakan untuk pergi bertualang. Apakah untuk alasan itu?”
”Salah satunya. Aku juga ingin mendapatkan kekuatan dan pengetahuan dari seluruh pelosok dunia ini.”
”Kebunku akan kehilangan dirimu,” Lelaki tua itu tersenyum.
”Maafkan aku,” ucap Ruud. ”Tanpa kebun itu, mungkin aku dan Bibi tak bisa melanjutkan hidup. Tapi, aku harus pergi.”
”Kapan waktu itu tiba?”
”Secepatnya.”
Ruud membungkukkan badannya pada Kepala Desa. Lalu, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu. Wajah tua Kepala Desa dihiasi senyuman yang tulus atas sosok yang baru saja pergi.
Dalam perjalanan kembali dari kantor Kepala Desa, Ruud terus memutar otaknya. Tak ada petunjuk, gumamnya dalam hati, yang ada hanya bekas jeratan di leher. Ruud terus berusaha membayangkan peristiwa yang menewaskan kedua orangtuanya berdasarkan apa yang tadi telah dikatakan oleh Kepala Desa. Lalu, harus mulai darimana perjalanannya nanti. Karena seperti apa yang telah dikatakannya pada orang-orang, tujuan utama perjalanannya memang untuk mengungkap kasus pembunuhan kedua orangtuanya.
Ia tiba di rumahnya. Kakinya langsung membawanya ke kamar. Langit memang sudah gelap. Tampaknya, bibinya juga sudah berada di kamarnya sendiri. Ruud merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak begitu empuk. Matanya memandang langit-langit kamar, namun pikirannya menerawang jauh.
Kemudian, didengarnya suara langkah kaki mendekati kamarnya. Buru-buru ia memiringkan badannya dan memejamkan mata pura-pura tertidur.
Fay mendorong pintu kamar keponakannya. Ia hanya berdiri di depan pintu sambil memandang sedih Ruud yang sedang tidur. Kemudian, ia menutup pintunya kembali. Sementara, Ruud membalikkan badannya, memandang pintu yang telah tertutup.
Beberapa hari setelahnya, matahari belum menunjukkan sinar kuningnya. Hanya semburat keemasan yang muncul dari timur. Ruud dan bibinya, Fay, telah bangun dari tidurnya.Wanita itu tengah menyodorkan mangkuk dengan asap yang mengepul kepada keponakannya.
”Ruud, makanlah dulu,” katanya. ”Ini bubur yang kubuat dengan tambahan tanaman obat dari kebun Kepala Desa. Sangat baik untukmu.”
”Terima kasih.”
Fay menghela napas. ”Apa kau yakin kau akan pergi hari ini?”
”Bibi tak perlu mengkhawatirkanku.”
Ruud makan dalam diam. Setelah itu, ia mengambil tas perbekalannya. Namun, badannya terhuyung karena tak menyangka tasnya begitu berat.
”Bibi, apa yang Bibi masukkan dalam tasku?” tanyanya dengan nada setengah memprotes.
“Ruud, kau bawa saja,” ucap Fay tegas. “Itu untuk perbekalanmu di jalan.”
”Tapi, Bi....”
”Ruud!” potong Fay tegas.
Tak bisa menolak, Ruud menggendong tasnya. Ia pun beranjak keluar diikuti dengan bibinya.
“Kau jahat sekali tidak memberitahu Lith kau akan pergi hari ini,” kata Fay.
Keponakannya terdiam.
”Tapi, aku sudah memberitahunya. Ia sangat terkejut dan sedih. Jadi, tunggulah ia sebentar di sini,” nasihat Fay.
Namun, ternyata Ruud tak perlu menunggu karena Lith muncul dengan napas yang terengah-engah. Gadis itu berdiri di hadapan Ruud.
”Kenapa kau tak memberitahuku?” tanyanya.
”Maaf,” ucap Ruud singkat.
Kepala Lith tertunduk sedih. “Kapan kau akan kembali?”
Ruud mengangkat tiga jarinya. ”Tunggu aku selama tiga tahun. Aku akan kembali.”
Setelah mengatakan itu, ia membalikkan badannya seraya berkata, ”Aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik.”
Kedua wanita itu memandangi tubuh Ruud yang berjalan meninggalkan desa.
”Ruud, hati-hati!” seru Fay.
Diam-diam, Lith mengikuti Ruud sampai ia melewati gerbang desa Thebe.




