Friday, October 29, 2010

The Averior Chapter 1 Part 5

Kembali ke masa sepuluh tahun kemudian. Lith dan Ruud masih duduk di tepi sungai. Cukup lama mereka di sana. Sesekali mereka berbicara, mengenai keadaan keluarga, masa kecil, dan rencana perjalanan Ruud. Lith pun sadar betapa cepat ia akan kehilangan sahabat lelakinya itu.
            “Bagaimana dengan Bibi Fay?” tanya Lith. “Maksudku, apa ia masih tak mengizinkanmu?”
            ”Bagaimanapun juga aku akan tetap pergi.”
”Tapi kalau bibimu melarang?”
”Aku mungkin orang yang keras kepala. Tapi aku akan tetap pergi,” ucap Ruud tegas. ”Bibi Fay hanya terlalu mengkhawatirkanku.”
Gadis di sampingnya terdiam.
”Kau sudah sering kuceritakan. Bertualang itu cita-citaku sejak kecil,” tambah Ruud. ”Aku pikir 17 tahun adalah usia yang tepat.”
”Aku menghargai apapun keputusanmu.”
Ruud mengucapkan terima kasih sekilas. Lalu, mereka berdua kembali terdiam menatap sungai.
”Lith,” panggil Ruud beberapa lama kemudian.
Mata Lith menatap Ruud.
”Aku ada urusan penting,” kata Ruud. ”Terima kasih atas bukunya.”
”Ya,” Lith menggangguk.
Sosok lelaki di sampingnya itu pun berlari dan hilang dari pandangannya. Tak lama kemudian, ia juga meninggalkan tepi sungai itu.
Kepala Desa Thebe menyeruput secangkir teh hangat di sore hari yang sejuk. Kepalanya yang beruban disandarkan pada kursinya. Mata abu-abunya memandang gunung yang menjadi latar bangunan yang dijadikan kediaman sekaligus tempatnya bertugas mengepalai desa.
Ia meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping kursinya. Sejenak ia menghirup nafas dalam-dalam, mencoba merasakan sejuknya angin sore. Tanpa disadarinya, Ruud berdiri tanpa suara di belakangnya. Lelaki muda itu berdeham. Kepala desa langsung menoleh ke sumber suara.
”Ruud?” Mata tua Kepala Desa mengenali sosok yang berdiri di belakangnya. ”Kau tak mengetuk pintu?”
”Maaf. Tetapi pintunya terbuka.”
”Oh, aku lupa menutupnya,” Ia menertawai kealpaannya. ”Apa yang membuatmu datang kemari?”
”Tentang orang tuaku,” jawab Ruud singkat.
Lelaki tua itu tersenyum, “Ah, duduklah.”
Ruud menghampiri Kepala Desa dan duduk di sebelahnya.
”Ku kira kau akan bertanya tentang kematian mereka, bukan?”
”Apa yang Bibi ceritakan pada Anda?”
”Sama, sama,” Kepala Desa mengangguk-angguk. ”Sama seperti yang dikatakannya padamu.”
”Kecelakaan dalam bertugas?”
”Ya, tentu saja.”
”Tapi, bagaimana kejadiannya?” tanya Ruud.
”Bibimu mengatakan mereka terjerat semak di leher mereka. Memang saat itu, ada bekas luka pada leher ayah dan ibumu.”
”Anda percaya begitu saja?”
Wajah Kepala Desa berubah tegas. “Kau tak sopan pada bibi yang telah membesarkanmu.”
Ruud tersentak. ”Maafkan aku. Tapi, aku merasa apa yang diceritakan Bibi Fay aneh. Lagipula penduduk desa ini tampak tak menyukainya.”
 ”Kau tahu? Aku tak pernah melihat alasan untuk tidak memercayai Fay. Sebelumnya, ia tak pernah berbohong. Aku juga telah menyelidiki peristiwa itu. Yang bisa jadi petunjuk hanya luka di leher mereka. Aku berani menjamin kalau Fay tidak mungkin membunuh kedua orangtuamu.”
Pria tua itu bangun dari duduknya. Ia berjalan ke arah meja kerjanya dan kembali duduk di situ. Ruud pun mengikutinya. Ia berdiri di hadapan meja kerja Kepala Desa.
”Waktu itu Fay membawa tubuh tak bernyawa kedua orangtuamu kepadaku. Tak ada yang melihat kejadiaannya kecuali Fay sendiri. Ia berkata, kakak kandungnya, ibumu,” ucapnya seraya menunjuk Ruud. ”ingin membawakan makanan kepada ayahmu yang saat itu mendapat giliran di malam hari. Fay dan kau yang masih bayi pun turut ikut. Namun, sampai di menara penjaga, ayahmu tengah mendapat musibah. Ia terjerat perangkapnya sendiri. Ibumu berusaha menolongnya tetapi ia ikut terjebak. Fay bingung. Ia tak cepat mengambil tindakan karena waktu itu ia sedang menggendongmu. Pada akhirnya, ia menaruhmu di rumput yang aman dan berusaha menyelamatkan mereka. Namun, mereka sudah meninggal. Dengan sekuat tenaga, Fay mengeluarkan tubuh kedua orangtuamu dan menyeretnya ke tempat yang aman. Lalu, sembari menangis, ia melaporkannya padaku.”
Ruud terdiam. Ia tampak berpikir keras setelah mendengar cerita itu.
”Apa ayahku adalah orang yang biasa membuat kesalahan semacam itu?” tanyanya.
”Tidak. Ia orang yang teliti. Namun, musibah bisa terjadi pada siapa saja, Ruud. Termasuk pada ayahmu yang hebat itu.”
”Aku hanya berpikir kalau penduduk desa tidak memercayai bibiku karena ucapannya mengenai ’terjebak dalam perangkapnya sendiri’.”
”Itu masuk akal.” Kepala Desa mengelus-elus kumisnya. ”Lalu, apa pendapatmu mengenai kematian kedua orangtuamu? Apa kini kau sudah percaya dengan ucapan bibimu?”
Ruud menatap tajam Kepala Desa lalu ia menggelengkan kepalanya.
”Mungkin Anda menganggapku keras kepala. Tetapi itulah kenyataannya, aku tak bisa percaya dengan perkataan Bibi Fay.”
”Kalau begitu apa dugaanmu mengenai kasus itu?”
”Hanya dugaan. Memang belum ada buktinya. Tapi menurutku, orangtuaku dibunuh seseorang ataupun lebih dan Bibi dipaksa untuk menutup mulutnya,” jawab Ruud. “Aku menduga bukan tidak ada alasannya. Hidup diasuh Bibi, tentu aku akan mengenalnya. Ia tak pernah berbohong, tapi kalau menyangkut kematian kedua orangtuaku, pasti ada sinar aneh di matanya. Namun, sama seperti Anda, aku juga berani menjamin bahkan dengan nyawaku bahwa bukan Bibi yang membunuh orangtuaku.”
Kepala Desa tampak terkesima dengan penjelasan Ruud.
”Aku akan mencari bukti atas dugaanku itu,” lanjut Ruud.
”Ku dengar kau merencanakan untuk pergi bertualang. Apakah untuk alasan itu?”
”Salah satunya. Aku juga ingin mendapatkan kekuatan dan pengetahuan dari seluruh pelosok dunia ini.”
            ”Kebunku akan kehilangan dirimu,” Lelaki tua itu tersenyum.
            ”Maafkan aku,” ucap Ruud. ”Tanpa kebun itu, mungkin aku dan Bibi tak bisa melanjutkan hidup. Tapi, aku harus pergi.”
            ”Kapan waktu itu tiba?”
            ”Secepatnya.”
Ruud membungkukkan badannya pada Kepala Desa. Lalu, ia pun pergi meninggalkan ruangan  itu. Wajah tua Kepala Desa dihiasi senyuman yang tulus atas sosok yang baru saja pergi.
Dalam perjalanan kembali dari kantor Kepala Desa, Ruud terus memutar otaknya. Tak ada petunjuk, gumamnya dalam hati, yang ada hanya bekas jeratan di leher. Ruud terus berusaha membayangkan peristiwa yang menewaskan kedua orangtuanya berdasarkan apa yang tadi telah dikatakan oleh Kepala Desa. Lalu, harus mulai darimana perjalanannya nanti. Karena seperti apa yang telah dikatakannya pada orang-orang, tujuan utama perjalanannya memang untuk mengungkap kasus pembunuhan kedua orangtuanya.
Ia tiba di rumahnya. Kakinya langsung membawanya ke kamar. Langit memang sudah gelap. Tampaknya, bibinya juga sudah berada di kamarnya sendiri. Ruud merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak begitu empuk. Matanya memandang langit-langit kamar, namun pikirannya menerawang jauh.
Kemudian, didengarnya suara langkah kaki mendekati kamarnya. Buru-buru ia memiringkan badannya dan memejamkan mata pura-pura tertidur.
Fay mendorong pintu kamar keponakannya. Ia hanya berdiri di depan pintu sambil memandang sedih Ruud yang sedang tidur. Kemudian, ia menutup pintunya kembali. Sementara, Ruud membalikkan badannya, memandang pintu yang telah tertutup.
Beberapa hari setelahnya, matahari belum menunjukkan sinar kuningnya. Hanya semburat keemasan yang muncul dari timur. Ruud dan bibinya, Fay, telah bangun dari tidurnya.Wanita itu tengah menyodorkan mangkuk dengan asap yang mengepul kepada keponakannya.
”Ruud, makanlah dulu,” katanya. ”Ini bubur yang kubuat dengan tambahan tanaman obat dari kebun Kepala Desa. Sangat baik untukmu.”
”Terima kasih.”
Fay menghela napas. ”Apa kau yakin kau akan pergi hari ini?”
 ”Bibi tak perlu mengkhawatirkanku.”
Ruud makan dalam diam. Setelah itu, ia mengambil tas perbekalannya. Namun, badannya terhuyung karena tak menyangka tasnya begitu berat.
”Bibi, apa yang Bibi masukkan dalam tasku?” tanyanya dengan nada setengah memprotes.
“Ruud, kau bawa saja,” ucap Fay tegas. “Itu untuk perbekalanmu di jalan.”
”Tapi, Bi....”
”Ruud!” potong Fay tegas.
Tak bisa menolak, Ruud menggendong tasnya. Ia pun beranjak keluar diikuti dengan bibinya.
“Kau jahat sekali tidak memberitahu Lith kau akan pergi hari ini,” kata Fay.
Keponakannya terdiam.
”Tapi, aku sudah memberitahunya. Ia sangat terkejut dan sedih. Jadi, tunggulah ia sebentar di sini,” nasihat Fay.
Namun, ternyata Ruud tak perlu menunggu karena Lith muncul dengan napas yang terengah-engah. Gadis itu berdiri di hadapan Ruud.
”Kenapa kau tak memberitahuku?” tanyanya.
”Maaf,” ucap Ruud singkat.
Kepala Lith tertunduk sedih. “Kapan kau akan kembali?”
Ruud mengangkat tiga jarinya. ”Tunggu aku selama tiga tahun. Aku akan kembali.”
Setelah mengatakan itu, ia membalikkan badannya seraya berkata, ”Aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik.”
Kedua wanita itu memandangi tubuh Ruud yang berjalan meninggalkan desa.
”Ruud, hati-hati!” seru Fay.
Diam-diam, Lith mengikuti Ruud sampai ia melewati gerbang desa Thebe.

Thursday, October 14, 2010

The Averior Chapter 1 Part 4


Fay terlihat menahan amarahnya, ”Kau percaya?”
”Tidak. Aku tak pernah percaya,” jawab anak itu buru-buru.
”Lanjutkan makanmu.”
Mereka berdua kembali makan dalam diam. Setelah selesai, Fay membereskan alat makan tanpa bicara. Anak laki-laki itu memandang bibinya lalu ia kembali melontarkan pertanyaan.
”Orangtuaku meninggal karena kecelakaan apa?”
”Kecelakaan dalam bertugas.”
”Seperti apa?”
”Bibi tak tahu pasti.”
”Kenapa mereka bilang Bibi pembunuh?”
Fay membalikkan badannya menatap keponakannya. ”Kau masih memikirkannya? Mereka tak ada yang tahu, makanya mereka berbicara sembarangan.”
Wajah anak laki-laki itu menandakan ketidakpuasan.
”Kau percaya Bibi tak mungkin seorang pembunuh, kan?”
”Tentu, tapi..,”
”Sudah,” potong Fay. ”Bibi sudah memberitahu semuanya. Tak ada yang bisa dijelaskan lagi.”
Suara ketukan pintu memotong pembicaraan mereka. Fay segera menghampiri pintu depan. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan yang mengetuk pintu. Ia jarang bahkan bisa dikatakan nyaris tak pernah kedatangan tamu. Dengan hati-hati, ia mengintip dari jendela untuk melihat tamunya. Merasa aman, ia membuka pintu depan.
Sebuah keluarga berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang pria berambut coklat jerami dengan istrinya yang berwajah lembut, serta anak perempuan kecil berambut seperti ayahnya yang menyembunyikan dirinya di balik tubuh ibunya.
”Selamat malam,” sapa sang istri. ”Kami baru pindah ke Thebe hari ini.”
Fay tersenyum, ”Selamat malam. Penduduk baru rupanya. Di mana kalian tinggal?”
”Tak jauh dari sini. Di sana.” Wanita itu menunjuk dengan jarinya ke sebuah rumah yang jaraknya sekitar dua puluh lima meter darinya.
”Kita tak jauh rupanya,” Mata Fay menatap gadis kecil di belakang ibunya.
Menyadari tatapan Fay, wanita itu memperkenalkan putrinya, ”Ini Lith, anak perempuanku. Usianya tujuh tahun.”
”Sebaya dengan keponakanku,” ujar Fay. Lalu, ia berteriak ke dalam rumah. “Ruud, kemari.”
Tak lama kemudian, keponakannya sudah berdiri di sampingnya.
”Ini Ruud, keponakanku. Aku sendiri Fay. Salam kenal.”
Lith mengenali anak itu sebagai penolongnya tadi siang. Anak laki-laki itu pun mengenalinya. Mereka saling bertatapan. Kemudian, tanpa sadar, Lith menyembunyikan dirinya semakin dalam di balik tubuh ibunya.
”Baiklah, kami permisi dulu,” ucap ibu Lith. ”Kami mau menyapa tetangga lainnya.”
”Semoga kalian menikmati hidup di desa yang indah ini,” kata Fay.
”Terima kasih,” ucap Ayah Lith sambil berlalu. ”Desa ini memang indah.”
Fay dan Ruud sama-sama menatap keluarga itu. Selepas tiga sosok itu menghilang dalam kegelapan malam, Fay menatap keponakannya.
”Ruud, gadis kecil itu manis, ya?”
Anak itu tak memberi tanggapan apa-apa. Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah. Fay mengikutinya.
“Sepertinya gadis itu sedikit pemalu. Kau harus mengajaknya bermain. Aku jadi ingin tahu, bagaimana teman-temanmu?” tanya Fay ceria. ”Permainan apa yang biasa kau mainkan?”
Keponakannya masih terdiam.
”Kau tahu? Waktu Bibi kecil, Bibi paling suka bermain petak umpet. Ada lagi permainan mengejar teman dengan mata tertutup, tapi Bibi lupa nama permainannya. Masa kecil memang masanya bermain,” oceh Fay. Kenangan masa kecilnya kembali terlintas. ”Apa yang biasanya kau mainkan?”
Ruud menggeleng.
”Aku tak punya teman.”
”Kau bercanda?”
Mata hitam Ruud kini memancarkan kepedihan.
”Kau pasti anak yang nakal,ya? Kau pasti suka menjahili teman-temanmu?” Fay mulai memarahi keponakannya. ”Pantas saja tak ada yang mau berteman denganmu.”
Menanggapi omelan bibinya, Ruud memandangnya dengan tatapan marah.
”Bibi dikira pembunuh. Aku dibesarkan pembunuh.” Suara Ruud bergetar, entah menahan amarah atau tangis. ”Mereka menjauhi aku.”
Fay terpana.
”Aku mau tidur.” Ruud menghilang ke dalam kamarnya.
Rasa perih yang teramat sangat merambat di dada Fay. Air mata pun keluar dari matanya. Ia sama sekali tak pernah tahu kalau keponakannya menderita. Apa yang selama ini dilakukannya? Mencari nafkah. Tentu. Tapi, hanya itu yang dilakukannya. Ia pergi bekerja di perkebunan milik Kepala Desa dari pagi hingga sore setiap harinya. Ia tak pernah tahu apa-apa saja yang terjadi pada keponakannya, juga pada desa tempatnya tinggal.
Sebelumnya, pernyataannya tentang kematian kedua orangtua Ruud menimbulkan ketidakpercayaan warga Thebe. Ia juga sudah mendengar kalau warga mencurigai dirinya sebagai pembunuh. Hal itu tentu saja karena keterangan Fay yang menyatakan peristiwa terbunuhnya suami-istri itu sebagai kecelakaan tanpa adanya saksi mata lain. Namun, selain itu, Fay tidak tahu apa-apa lagi. Ia tenggelam dalam pekerjaannya yang berpenghasilan minim demi memenuhi kebutuhannya dan Ruud. Ia tak pernah tahu warga Thebe berpikir untuk menjauhi keponakan yang dibesarkannya. Ia tak pernah tahu selama ini anak laki-laki itu begitu kesepian. Ia tak pernah tahu apa-apa tentang Ruud.
Fay berjalan menuju kamarnya. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kalung. Kalung itu berwarna hitam. Bandulnya berupa sejenis batu berwarna perak yang berbentuk tetesan air. Tatapannya berubah sedih melihat kalung itu. Ia menggenggamnya dan berjalan menuju kamar Ruud.
“Ruud,” panggilnya lembut seraya membuka pintu.
Yang dipanggilnya tengah menatap langit melalui jendela kamarnya.
”Kau belum tidur?” tanya Fay. Ia duduk di ranjang.
Ruud menoleh. Lalu, ia menggeleng.
”Bibi ingin minta maaf padamu.”
Anak itu menunduk.
”Maaf selama ini Bibi tak pernah memperhatikanmu,” tambah Fay. ”Bibi tak pernah tahu selama ini kau kesepian. Maafkan Bibi.”
”Ta..pa..pa,” gumam Ruud tak jelas.
”Selama ini kau selalu berkeliaran di luar. Bibi pikir kau bermain.”
”Aku bermain dengan pohon, rumput, juga air sungai.”
Fay tersenyum. “Mereka memang teman yang baik.”
“Karena mereka tak pernah menjauhiku,” jelas Ruud.
Mata yang sewarna madu milik Fay menatap penuh sayang anak laki-laki di hadapannya.
”Bibi punya sesuatu untukmu,” Fay menunjukkan kalung yang digenggamnya kepada Ruud. ”Kalung ini dulu milik ayahmu.”
”Benarkah?”
”Tentu,” ucap Fay. ”Mau kupakaikan?”
Ruud mengangguk.
Sambil memakaikan kalung ke leher Ruud, Fay bercerita, ”Dulu ayahmu adalah penjaga gerbang desa. Ia bekerja di menara penjaga. Ia pria yang tampan, gagah, dan pemberani. Ia disegani di desa ini. Burung gagak pun tak akan ada yang berani hinggap di ladang jika ia berdiri di sana. Sementara, ibumu kebalikannya. Ia wanita yang amat lembut, penuh kasih, dan keibuan. Aku amat mengenalnya karena ibumu adalah kakak kandungku. Ia tak akan menyakiti seekor serangga pun.”
”Apa yang terjadi dengan mereka?”
”Mereka meninggal karena kecelakaan, Ruud,” jelas Fay.
Ruud terdiam sesaat sambil memandangi kalung ayahnya. Kemudian, ia berkata, “Ya, aku mengerti.”
Senyum merekah di wajah Fay. Ia mencium kening keponakannya.
“Tidurlah, Ruud,” Fay bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke arah pintu.
Ruud membaringkan tubuhnya di ranjang.
”Selamat malam, Ruud.”
”Malam, Bi.”
Fay menutup pintu. Ia berjalan ke ruang tengah. Berjam-jam ia habiskan dengan termenung. Ketika malam semakin larut, ia kembali beranjak ke kamar Ruud. Dibukanya pintu kamar dan ia melihat Ruud sudah tertidur pulas. Lama ia memandangi keponakannya. Tiba-tiba, air mata mengalir di wajahnya. Di ranjang itu, yang dilihatnya adalah sosok ayah Ruud alih-alih keponakannya. Kemiripan di antara ayah dan anak itu begitu nyata terlihat. Rasa rindu yang menyakitkan menyusup ke dalam hati Fay.
Wanita muda itu menutup pintu dan kembali menuju ruang tengah.

The Averior Chapter 1 Part 3


TUK...TUK...
 Sebuah kayu tepat mengenai kepala kedua anak laki-laki itu. Mereka pun melepaskan tangannya dari Lith dan ganti memegang kedua kepala mereka yang nyeri.
”Sakit,” raung anak yang berbaju kebesaran. ”Kau?!”
Di hadapannya, berdiri seorang anak laki-laki yang memegang sebilah kayu. Wajahnya tak menunjukkan dosa setelah memukul kepala kedua anak itu.
”Kalian mau ganggu orang lagi?” tanyanya.
Mata hitamnya menatap tajam wajah kedua anak itu.
”Aku bilang ke ibuku,” ancam si anak bertopi.
Kedua anak itu pun lari meninggalkan Lith dan penolongnya.
Lama mereka berdua terdiam. Kemudian, Lith memecah keheningan dengan mengucapkan terima kasih sambil tersipu-sipu. Anak itu hanya memandangnya tanpa berkata-kata. Ia melempar sebilah kayu yang sedari tadi dipegangnya ke air sungai yang mengalir. Lalu, ia duduk di tepinya. Mata Lith memandang anak itu.
”Mereka tadi akan ikat kau di pohon seharian,” ucap anak itu tiba-tiba.
”Mereka selalu begitu?” tanya Lith.
Anak itu tersenyum mengiyakan.
”Kau pernah?” Lith kembali bertanya.
Mata hitam yang sedari tadi memandang air kini beralih memandang Lith.
”Kau....pernah diikat di pohon?” Lith menjadi salah tingkah.
”Hampir,” jawabnya ringan.
Saat itu, Tulip mendekati anak laki-laki itu. Anjing itu pun menyalak minta perhatian. Anak itu memandangnya sesaat. Kemudian tangannya mengelus kepala anjing mungil itu.
”Anjingmu?”
Lith mengangguk. ”Tulip namanya. Baru sebulan umurnya.”
Sesaat mereka kembali terdiam. Lith menghampiri anak itu dengan gelisah dan duduk di sebelahnya.
”Mereka bilang akan mengadu ke ibu mereka,” Lith memberanikan diri berkata.
”Tak apa-apa. Mereka cuma tak berani melawan.”
”Kalau ibu mereka datang, nanti aku akan bilang yang sebenarnya.”
Anak itu kembali tersenyum. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu yang menempel di celananya.
”Aku pergi dulu.”
Tanpa menoleh, ia berlari meninggalkan sungai. Mata Lith mengikutinya sampai sosoknya menghilang di balik bukit. Lith duduk termenung di sana sampai senja datang menjemput.
Masih di desa yang sama, anak laki-laki tadi berlari di jalan utama desa. Langkahnya kemudian terhenti di sebuah rumah yang terletak nyaris di ujung timur desa.
”Bi, aku pulang,” seru anak itu seraya membuka pintu.
”Bagus. Semakin lama kau pulang semakin malam.” Seorang wanita menyahut sinis dari balik dinding dapur. “Lama-lama aku tak akan mengizinkanmu masuk.”
Anak itu mengeluh tanpa suara. Kemudian, ia menghampiri sosok wanita itu di dapur.
Dapur itu cukup luas namun berantakan. Bahan-bahan makanan ataupun alat-alat masak tergeletak sembarangan di setiap sudut dapur. Rupanya ruang makan dijadikan satu dengan dapur karena terdapat meja makan dengan dua kursi di ruangan itu. Asap mengepul dari kuali di atas api yang menyala di salah satu sudut dapur. Di depannya seorang wanita muda mengaduk-aduk isi kuali itu.
”Ambilkan mangkuk dan taruh di meja.”
Anak laki-laki itu menurut. Ia memanjat meja dapur lalu mengambil dua buah mangkuk dari lemari dinding. Tak hanya mangkuk tapi ia juga mengambil sendok dan gelasnya. Setelah itu, ia menyusunnya di meja makan.
“Bibi Fay, makan apa kita malam ini?”
”Sup daging,” Bibinya menjawab singkat.
“Enak,” ucap anak itu mencoba membuat bibinya melupakan kesalahannya.
Tak ada tanggapan. Fay mencicipi sedikit kuah supnya lalu bergumam sedikit tentang betapa cerdasnya ia dalam memasak. Kemudian, ia mengangkat kuali itu dan meletakkannya di tengah meja makan. Keponakannya sudah duduk manis di situ.
Sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk, ia berkata, ”Kau pasti tahu kalau malam itu tidak aman. Kau baru tujuh tahun. Bagaimana kalau ada perampok yang mengganggumu atau ada binatang liar yang lapar? Kau bisa celaka. Desa ini masih banyak menyimpan binatang-binatang aneh kelaparan dalam hutan-hutannya.”
            Ia menaruh mangkuk sup di depan keponakannya, ”Makanlah.”
Anak itu mulai menyuap sup ke mulutnya.
Fay kembali berbicara, ”Kau mengerti? Kalau besok kau pulang malam lagi, Bibi akan mengunci pintu agar kau tahu betapa berbahayanya di luar sana. Paham?”
”Tapi kenapa anak-anak lain boleh?” bela anak laki-laki itu. ”Aku sering melihat mereka main meski sudah malam.”
”Orangtua mereka belum mengerti bahaya malam.”
”Lalu, kenapa bibi mengerti?” tanya keponakannya. Dalam usia semuda itu, ia mampu menatap tajam bibinya. ”Apa bahaya malam yang membuat ayah-ibu meninggal?”
Fay terdiam. Ia pun sadar betapa cerdasnya anak yang ada di hadapannya sekarang. Anak itu mampu mengaitkannya dengan kematian kedua orang tuanya enam tahun lalu yang masih misterius. Ia butuh informasi, itu yang tersirat dalam tatapan matanya.
”Apa yang kau dengar dari warga?” Fay balik bertanya.
“Tapi Bibi pasti marah?” Anak laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya.
”Apa yang kau dengar?” ulang Fay dengan nada yang lebih halus.
“Aku dengar mereka meninggal tiba-tiba. Tak ada yang tahu kenapa.”
“Bibi sudah mengatakan kalau mereka meninggal karena kecelakaan, bukankah begitu?”
”Mereka malah bilang kalau Bibi...........,” Keponakannya terdiam beberapa saat. ”....pembunuh ayah-ibuku.”

Tuesday, October 12, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 2

Rumah kayu kecil bergaya Jepang kuno berdiri di hadapan Kanao. Tak ada yang bisa diingatnya dari kehidupan yang dulu ia habiskan di sana. Ia berjalan memasukinya. Perabotan yang senada dengan rumah tua itu sudah ditempatkan di dalamnya. Ia duduk di ruang tengah. Tak ada kursi, hanya tatami dan kotatsu serta meja TV di sudut ruangan. Mata Kanao memandang langit-langitnya. Ponselnya tiba-tiba berdering. Dilihatnya layar handphone, lalu ia mengangkatnya.
            “Moshi moshi?”
            “Kanao!” seru suara di seberang telepon. “Kau pergi begitu saja?!”
            ”Maaf, Tomoe, aku tidak memberitahumu,” ujar Kanao. ”Kau tadi masih ada pemotretan, kan?”
            ”Tapi, tidak bisakah kau menunggu sampai selesai? Lalu, kita, kan, bisa bersama-sama pergi.”
            ”Maaf.”
            Tomoe menghela nafas. ”Bagaimana di sana?”
            ”Hmm,” Kanao berpikir sejenak. ”Sangat berbeda dari Tokyo.”
            ”Bodoh! Tentu saja,” kata Tomoe seraya tertawa.
            ”Mungkin akan menyenangkan tinggal di sini.”
            ”Aku tidak tahu kau akan seserius itu meninggalkan Tokyo.”
            Kini, giliran Kanao yang tertawa, ”Kau selalu menganggapku anak kecil, makanya kau tidak pernah menganggap serius ucapanku.”
            ”Itu, kan anggapanmu sendiri. Aku menghargaimu, Kanao,” jelas Tomoe. ”Ya, berhati-hatilah di sana. Jangan sampai paparazzi menemukanmu.”
            ”Kalau paparazzi menemukanku, aku akan pergi dari sini,” Kanao diam sejenak. ”Tapi, aku mungkin sudah tidak tahu harus kemana lagi.”
            ”Mungkin kau bisa kembali ke Tokyo dan menikmati kehidupan tidak bebasmu.”
            ”Aku tidak setabah kau yang bisa tahan selalu diliput kemanapun.”
            ”Aku butuh popularitas,” Tomoe tertawa. “Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku masih ada jadwal.”
            ”Hmm. Sampai jumpa.”
            ”Ja.”
            Telepon ditutup.
            Pemuda dua puluh tahun itu berjalan ke kamarnya dan membuka jendela. Matahari senja menggantung di ufuk barat. Suara burung-burung yang pulang ke sarangnya sayup-sayup terdengar. Tempat yang sempurna untuk lari dari kehidupan kota, pikir Kanao.
            Percakapannya dengan Tomoe kembali terngiang di telinganya. Tomoe lebih tua tiga tahun darinya. Ia juga sudah lebih lama berkecimpung di dunia hiburan. Pantas saja kalau ia sudah terbiasa dengan kehidupan keartisannya. Kadang ia berpikir, mungkin salah bila ia dulu memutuskan terjun ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan pasang-surut dan ketidakbebasan. Padahal, sifat aslinya adalah penyendiri. Pertama, ia memang merasakan kesenangan. Apa yang dibutuhkannya selalu dapat diperolehnya. Namun, lambat laun, ia merasa tak seperti manusia. Segala kegiatan dalam hidupnya harus selalu diatur oleh sang manajer. Kehidupan pribadi yang sifatnya sangat rahasia pun sampai ke telinga para penggemarnya yang selalu menghantui dirinya kemana pun ia berada. Inikah hidup? Pertanyaan itu sering terlintas di benaknya.
            Mata Kanao memandang langit yang sudah sepenuhnya gelap. Ketenangan ini haruslah selamanya, pikirnya. Ia menutup jendela itu tepat ketika bel pintu berbunyi.
            Begitu membuka pintu, ia langsung mengenali sosok yang berada di hadapannya.
            ”Yuna-chan,” panggilnya.
            Gadis mungil itu tersenyum. ”Aku membawakan makan malam untukmu.”
            ”Ah, terimakasih.”
            ”Boleh aku masuk?” tanya Yuna.
            ”Tentu,” jawab Kanao sambil membuka jalan bagi Yuna.
            Yuna masuk ke ruang tengah dengan langkah ringan. Ia taruh kotak bekal di meja.
            ”Kanao-kun,” panggilnya.
            Kaget karena gadis itu memanggil dengan nama depan, ia hanya menjawab panggilannya dengan tatapan mata.
            ”Kau tidak seperti seorang aktor. Kau sangat ramah,” ucapnya seraya duduk di tatami.
            ”Aktor juga manusia biasa. Tidak ada pembeda,” kata Kanao. ”Terimakasih makanannya. Aku sungguh sangat senang menerimanya.”
            Yuna menggeleng. ”Tak apa-apa. Kami biasa saling memberikan makanan di sini.”
            ”Kehidupan yang hangat,” ujar Kanao seraya duduk. ”Kau cucu Toto-san?”
            ”Cucu angkat.”
            ”Kau berasal dari mana?”
            Tawa ringan keluar dari mulut Yuna. ”Aku lahir di sini. Ayahku meninggal karena kecelakaan, setahun kemudian ibuku meninggal karena sakit. Jadi, aku dirawat oleh Toto-jii.”
            ”Maafkan aku.”
            ”Tak apa,” ucap Yuna. ”Kanao-kun, kau pernah tinggal di sini sampai umur tiga tahun,ya?”
            ”Ya. Tapi tak ada bisa ku ingat ketika itu.”
            ”Berarti kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Mungkin saat kau pergi itulah, aku baru muncul di dunia ini.”
            Sejenak Kanao terdiam mencerna perkataan Yuna tadi, lalu ia berkata, ”Kalau begitu, umurmu sekitar 17 tahun?”
            Yuna menggangguk, heran ada nada terkejut pada pertanyaan Kanao tadi.
            ”Aku kira umurmu sekitar 12-14 tahun,” Kanao tertawa. ”Kalau begitu kita hanya berbeda tiga tahun.”
            ”Tahun ini umurku genap 17,” ujar Yuna dengan nada protes.
            ”Maaf.”
            Gadis berkuncir dua itu bangkit dari duduknya. Ia berkeliling rumah itu dan mengamati keadaannya. “Tak aku sangka, rumah tua ini bisa diperbaiki sampai sebagus ini.”
            Kanao hanya menanggapinya dengan senyuman.
            ”Apa aktor selalu bisa melakukan apa yang dia mau?” tanya Yuna dengan polos.
            ”Hmm?”
            Kepala Yuna mengangguk. ”Lihat! Hanya dalam beberapa hari, rumah ini sudah tampak seperti baru. Rasanya seperti.......”
            ”Seperti?”
            ”Seperti sihir,” jawab Yuna. Matanya membulat.
            Tawa Kanao meledak. ”Kau lucu juga, ya, Yuna-chan?”
            ”Eh?” Yuna tampak heran. ”Kenapa kau tiba-tiba tertawa?”
            ”Karena kepolosanmu.”
            Kebingungan tampak jelas di wajah Yuna. Ia lalu mengalihkan pembicaraan. ”Kau tidak mau makan makanannya?”
            ”Tentu saja aku mau,” jawab Kanao. ”Tapi, nanti saja. Aku masih belum lapar.”
            ”Oh, baiklah.”
            ”Terimakasih pada Toto-san yang telah menyiapkannya.”
            ”Ya, akan kusampaikan. Ng-kalau begitu, aku pulang dulu.”
            ”Sampai jumpa, Yuna-chan.”
            Yuna beranjak ke pintu depan. Sesaat sebelum ia menutup pintunya kembali, ia berkata, ”Aku yang memasak makanannya.” Lalu, ia pun pergi.
            ”Wah, tak kusangka,” ujar Kanao. Ia pun buru-buru melihat kotak makanan itu.

The Averior Chapter 1 Part 2

            Sepuluh tahun yang lalu, Lith dan keluarganya pindah ke desa Thebe. Di masa itu, kerajaan-kerajaan besar sedang memperluas wilayahnya. Maka, banyak desa-desa kecil yang menjadi korban. Desa tempat tinggal Lith dulu dihancurkan. Kekuasaannya diambil alih oleh salah satu kerajaan. Keluarganya berhasil melarikan diri di tengah kerusuhan itu. Mereka pindah ke desa Thebe, salah satu dari sedikit desa yang berhasil mempertahankan wilayahnya.

            Tujuh tahun usia Lith saat ia pindah ke desa itu. Sosoknya yang pemalu dan lemah membuat kepindahan itu tak menyenangkan. Dalam benaknya selalu timbul pertanyaan dengan siapa ia akan berteman dan bagaimana caranya memperoleh teman.
            Saat itu, orang tua Lith masih sibuk mengatur barang-barang di rumah baru mereka. Lith kecil berjalan mondar-mandir bersama Tulip.
            Kemudian, ibunya memanggil, ”Lith.”
            Gadis kecil itu menoleh.
            “Dari tadi kau terus mondar-mandir saja. Ibu jadi merasa terganggu.”
            Wanita itu mendekati anak semata wayangnya.
            ”Pergilah bermain di luar,” ujarnya sambil mengelus kepala Lith. ”Bermainlah dengan anak-anak di sini. Kau harus mencari teman.”
            Lith mengangguk meskipun sebenarnya ia lebih memilih berada di dalam rumah.
            ”Ayo, Tulip.”
Ia mengajak Tulip. Anjing itu baru didapatkannya kemarin dari ibunya sebagai penghibur agar ia tidak sedih karena peristiwa yang menimpa desa asalnya.
Aroma rumput yang menyegarkan menyambut Lith begitu ia membuka pintu rumahnya. Rambut coklat jeraminya menari ditiup angin sejuk musim semi. Ia melangkah di lahan hijau itu. Tak tahu harus kemana. Tapi, kalaupun nantinya ia tersesat, Tulip pasti bisa membawanya pulang.
Setelah beberapa menit ia berjalan, suara air yang mengalir terdengar di telinganya. Ia pun tersenyum dan mempercepat langkahnya menghampiri sumber suara. Sesuai dugaannya, sungai jernih mengalir di balik bukit kecil yang didakinya tadi. Ia menghampirinya dan duduk menepi.
Wajah lugunya menatap pantulan dirinya di air. Jari-jarinya memainkan air yang mengalir jernih. Tak sadar ia pun mulai bersenandung. Lagu yang akrab dinyanyikan anak-anak di desa asalnya. Lagu yang mengisahkan tentang malaikat pelindung.

Datanglah,
hai malaikat pelindungku.
Kepakkan sayapmu,
basmi sgala yang jahat.
Nyanyikan lagu yang sama,
lagu merdumu.
Dan aku berjanji,
takkan takut lagi.

Dalam hati, Lith berpikir tentang malaikat itu. Bagaimana rupanya? Benarkah mereka punya sayap? Kapan ia akan datang? Lith ingin malaikat itu datang dan melindunginya. Dengan demikian, kekacauan di desanya terdahulu takkan terjadi. Karena bukankah malaikat pelindung membasmi segala yang jahat? Mereka yang menghancurkan desanya pasti orang-orang yang jahat. Kalau begitu, kenapa malaikat pelindungnya diam saja?
Lith menatap murung bayangannya. Di benaknya terlintas lagi peristiwa menyedihkan yang terjadi sebelumnya. Hatinya kembali diliputi kesedihan.
Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkan Lith.
”Hei, aku belum pernah melihatmu?”
Dua anak laki-laki yang sedikit lebih dewasa darinya berdiri dengan tangan terlipat di dada. Seorang anak memakai baju putih yang kebesaran, sementara yang satunya memakai topi abu-abu.
”Kau anak baru, ya?” tanya anak bertopi.
Perlahan, Lith mengangguk.
Kedua anak itu saling menatap. Mereka tersenyum licik. Kemudian, mereka menghampiri Lith. Gadis kecil itu mulai ketakutan. Ia bergerak mundur beberapa langkah. Namun, kedua anak laki-laki itu berlari dan mulai memegang tangan Lith, menahannya agar tidak bergerak. Lith mulai menangis. Tulip menyalak panik.