Fay terlihat menahan amarahnya, ”Kau percaya?”
”Tidak. Aku tak pernah percaya,” jawab anak itu buru-buru.
”Lanjutkan makanmu.”
Mereka berdua kembali makan dalam diam. Setelah selesai, Fay membereskan alat makan tanpa bicara. Anak laki-laki itu memandang bibinya lalu ia kembali melontarkan pertanyaan.
”Orangtuaku meninggal karena kecelakaan apa?”
”Kecelakaan dalam bertugas.”
”Seperti apa?”
”Bibi tak tahu pasti.”
”Kenapa mereka bilang Bibi pembunuh?”
Fay membalikkan badannya menatap keponakannya. ”Kau masih memikirkannya? Mereka tak ada yang tahu, makanya mereka berbicara sembarangan.”
Wajah anak laki-laki itu menandakan ketidakpuasan.
”Kau percaya Bibi tak mungkin seorang pembunuh, kan?”
”Tentu, tapi..,”
”Sudah,” potong Fay. ”Bibi sudah memberitahu semuanya. Tak ada yang bisa dijelaskan lagi.”
Suara ketukan pintu memotong pembicaraan mereka. Fay segera menghampiri pintu depan. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan yang mengetuk pintu. Ia jarang bahkan bisa dikatakan nyaris tak pernah kedatangan tamu. Dengan hati-hati, ia mengintip dari jendela untuk melihat tamunya. Merasa aman, ia membuka pintu depan.
Sebuah keluarga berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang pria berambut coklat jerami dengan istrinya yang berwajah lembut, serta anak perempuan kecil berambut seperti ayahnya yang menyembunyikan dirinya di balik tubuh ibunya.
”Selamat malam,” sapa sang istri. ”Kami baru pindah ke Thebe hari ini.”
Fay tersenyum, ”Selamat malam. Penduduk baru rupanya. Di mana kalian tinggal?”
”Tak jauh dari sini. Di sana.” Wanita itu menunjuk dengan jarinya ke sebuah rumah yang jaraknya sekitar dua puluh lima meter darinya.
”Kita tak jauh rupanya,” Mata Fay menatap gadis kecil di belakang ibunya.
Menyadari tatapan Fay, wanita itu memperkenalkan putrinya, ”Ini Lith, anak perempuanku. Usianya tujuh tahun.”
”Sebaya dengan keponakanku,” ujar Fay. Lalu, ia berteriak ke dalam rumah. “Ruud, kemari.”
Tak lama kemudian, keponakannya sudah berdiri di sampingnya.
”Ini Ruud, keponakanku. Aku sendiri Fay. Salam kenal.”
Lith mengenali anak itu sebagai penolongnya tadi siang. Anak laki-laki itu pun mengenalinya. Mereka saling bertatapan. Kemudian, tanpa sadar, Lith menyembunyikan dirinya semakin dalam di balik tubuh ibunya.
”Baiklah, kami permisi dulu,” ucap ibu Lith. ”Kami mau menyapa tetangga lainnya.”
”Semoga kalian menikmati hidup di desa yang indah ini,” kata Fay.
”Terima kasih,” ucap Ayah Lith sambil berlalu. ”Desa ini memang indah.”
Fay dan Ruud sama-sama menatap keluarga itu. Selepas tiga sosok itu menghilang dalam kegelapan malam, Fay menatap keponakannya.
”Ruud, gadis kecil itu manis, ya?”
Anak itu tak memberi tanggapan apa-apa. Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah. Fay mengikutinya.
“Sepertinya gadis itu sedikit pemalu. Kau harus mengajaknya bermain. Aku jadi ingin tahu, bagaimana teman-temanmu?” tanya Fay ceria. ”Permainan apa yang biasa kau mainkan?”
Keponakannya masih terdiam.
”Kau tahu? Waktu Bibi kecil, Bibi paling suka bermain petak umpet. Ada lagi permainan mengejar teman dengan mata tertutup, tapi Bibi lupa nama permainannya. Masa kecil memang masanya bermain,” oceh Fay. Kenangan masa kecilnya kembali terlintas. ”Apa yang biasanya kau mainkan?”
Ruud menggeleng.
”Aku tak punya teman.”
”Kau bercanda?”
Mata hitam Ruud kini memancarkan kepedihan.
”Kau pasti anak yang nakal,ya? Kau pasti suka menjahili teman-temanmu?” Fay mulai memarahi keponakannya. ”Pantas saja tak ada yang mau berteman denganmu.”
Menanggapi omelan bibinya, Ruud memandangnya dengan tatapan marah.
”Bibi dikira pembunuh. Aku dibesarkan pembunuh.” Suara Ruud bergetar, entah menahan amarah atau tangis. ”Mereka menjauhi aku.”
Fay terpana.
”Aku mau tidur.” Ruud menghilang ke dalam kamarnya.
Rasa perih yang teramat sangat merambat di dada Fay. Air mata pun keluar dari matanya. Ia sama sekali tak pernah tahu kalau keponakannya menderita. Apa yang selama ini dilakukannya? Mencari nafkah. Tentu. Tapi, hanya itu yang dilakukannya. Ia pergi bekerja di perkebunan milik Kepala Desa dari pagi hingga sore setiap harinya. Ia tak pernah tahu apa-apa saja yang terjadi pada keponakannya, juga pada desa tempatnya tinggal.
Sebelumnya, pernyataannya tentang kematian kedua orangtua Ruud menimbulkan ketidakpercayaan warga Thebe. Ia juga sudah mendengar kalau warga mencurigai dirinya sebagai pembunuh. Hal itu tentu saja karena keterangan Fay yang menyatakan peristiwa terbunuhnya suami-istri itu sebagai kecelakaan tanpa adanya saksi mata lain. Namun, selain itu, Fay tidak tahu apa-apa lagi. Ia tenggelam dalam pekerjaannya yang berpenghasilan minim demi memenuhi kebutuhannya dan Ruud. Ia tak pernah tahu warga Thebe berpikir untuk menjauhi keponakan yang dibesarkannya. Ia tak pernah tahu selama ini anak laki-laki itu begitu kesepian. Ia tak pernah tahu apa-apa tentang Ruud.
Fay berjalan menuju kamarnya. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kalung. Kalung itu berwarna hitam. Bandulnya berupa sejenis batu berwarna perak yang berbentuk tetesan air. Tatapannya berubah sedih melihat kalung itu. Ia menggenggamnya dan berjalan menuju kamar Ruud.
“Ruud,” panggilnya lembut seraya membuka pintu.
Yang dipanggilnya tengah menatap langit melalui jendela kamarnya.
”Kau belum tidur?” tanya Fay. Ia duduk di ranjang.
Ruud menoleh. Lalu, ia menggeleng.
”Bibi ingin minta maaf padamu.”
Anak itu menunduk.
”Maaf selama ini Bibi tak pernah memperhatikanmu,” tambah Fay. ”Bibi tak pernah tahu selama ini kau kesepian. Maafkan Bibi.”
”Ta..pa..pa,” gumam Ruud tak jelas.
”Selama ini kau selalu berkeliaran di luar. Bibi pikir kau bermain.”
”Aku bermain dengan pohon, rumput, juga air sungai.”
Fay tersenyum. “Mereka memang teman yang baik.”
“Karena mereka tak pernah menjauhiku,” jelas Ruud.
Mata yang sewarna madu milik Fay menatap penuh sayang anak laki-laki di hadapannya.
”Bibi punya sesuatu untukmu,” Fay menunjukkan kalung yang digenggamnya kepada Ruud. ”Kalung ini dulu milik ayahmu.”
”Benarkah?”
”Tentu,” ucap Fay. ”Mau kupakaikan?”
Ruud mengangguk.
Sambil memakaikan kalung ke leher Ruud, Fay bercerita, ”Dulu ayahmu adalah penjaga gerbang desa. Ia bekerja di menara penjaga. Ia pria yang tampan, gagah, dan pemberani. Ia disegani di desa ini. Burung gagak pun tak akan ada yang berani hinggap di ladang jika ia berdiri di sana. Sementara, ibumu kebalikannya. Ia wanita yang amat lembut, penuh kasih, dan keibuan. Aku amat mengenalnya karena ibumu adalah kakak kandungku. Ia tak akan menyakiti seekor serangga pun.”
”Apa yang terjadi dengan mereka?”
”Mereka meninggal karena kecelakaan, Ruud,” jelas Fay.
Ruud terdiam sesaat sambil memandangi kalung ayahnya. Kemudian, ia berkata, “Ya, aku mengerti.”
Senyum merekah di wajah Fay. Ia mencium kening keponakannya.
“Tidurlah, Ruud,” Fay bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke arah pintu.
Ruud membaringkan tubuhnya di ranjang.
”Selamat malam, Ruud.”
”Malam, Bi.”
Fay menutup pintu. Ia berjalan ke ruang tengah. Berjam-jam ia habiskan dengan termenung. Ketika malam semakin larut, ia kembali beranjak ke kamar Ruud. Dibukanya pintu kamar dan ia melihat Ruud sudah tertidur pulas. Lama ia memandangi keponakannya. Tiba-tiba, air mata mengalir di wajahnya. Di ranjang itu, yang dilihatnya adalah sosok ayah Ruud alih-alih keponakannya. Kemiripan di antara ayah dan anak itu begitu nyata terlihat. Rasa rindu yang menyakitkan menyusup ke dalam hati Fay.
Wanita muda itu menutup pintu dan kembali menuju ruang tengah.

No comments:
Post a Comment