Sepuluh tahun yang lalu, Lith dan keluarganya pindah ke desa Thebe. Di masa itu, kerajaan-kerajaan besar sedang memperluas wilayahnya. Maka, banyak desa-desa kecil yang menjadi korban. Desa tempat tinggal Lith dulu dihancurkan. Kekuasaannya diambil alih oleh salah satu kerajaan. Keluarganya berhasil melarikan diri di tengah kerusuhan itu. Mereka pindah ke desa Thebe, salah satu dari sedikit desa yang berhasil mempertahankan wilayahnya.
Tujuh tahun usia Lith saat ia pindah ke desa itu. Sosoknya yang pemalu dan lemah membuat kepindahan itu tak menyenangkan. Dalam benaknya selalu timbul pertanyaan dengan siapa ia akan berteman dan bagaimana caranya memperoleh teman.
Saat itu, orang tua Lith masih sibuk mengatur barang-barang di rumah baru mereka. Lith kecil berjalan mondar-mandir bersama Tulip.
Kemudian, ibunya memanggil, ”Lith.”
Gadis kecil itu menoleh.
“Dari tadi kau terus mondar-mandir saja. Ibu jadi merasa terganggu.”
Wanita itu mendekati anak semata wayangnya.
”Pergilah bermain di luar,” ujarnya sambil mengelus kepala Lith. ”Bermainlah dengan anak-anak di sini. Kau harus mencari teman.”
Lith mengangguk meskipun sebenarnya ia lebih memilih berada di dalam rumah.
”Ayo, Tulip.”
Ia mengajak Tulip. Anjing itu baru didapatkannya kemarin dari ibunya sebagai penghibur agar ia tidak sedih karena peristiwa yang menimpa desa asalnya.
Aroma rumput yang menyegarkan menyambut Lith begitu ia membuka pintu rumahnya. Rambut coklat jeraminya menari ditiup angin sejuk musim semi. Ia melangkah di lahan hijau itu. Tak tahu harus kemana. Tapi, kalaupun nantinya ia tersesat, Tulip pasti bisa membawanya pulang.
Setelah beberapa menit ia berjalan, suara air yang mengalir terdengar di telinganya. Ia pun tersenyum dan mempercepat langkahnya menghampiri sumber suara. Sesuai dugaannya, sungai jernih mengalir di balik bukit kecil yang didakinya tadi. Ia menghampirinya dan duduk menepi.
Wajah lugunya menatap pantulan dirinya di air. Jari-jarinya memainkan air yang mengalir jernih. Tak sadar ia pun mulai bersenandung. Lagu yang akrab dinyanyikan anak-anak di desa asalnya. Lagu yang mengisahkan tentang malaikat pelindung.
Datanglah,
hai malaikat pelindungku.
Kepakkan sayapmu,
basmi sgala yang jahat.
Nyanyikan lagu yang sama,
lagu merdumu.
Dan aku berjanji,
takkan takut lagi.
Dalam hati, Lith berpikir tentang malaikat itu. Bagaimana rupanya? Benarkah mereka punya sayap? Kapan ia akan datang? Lith ingin malaikat itu datang dan melindunginya. Dengan demikian, kekacauan di desanya terdahulu takkan terjadi. Karena bukankah malaikat pelindung membasmi segala yang jahat? Mereka yang menghancurkan desanya pasti orang-orang yang jahat. Kalau begitu, kenapa malaikat pelindungnya diam saja?
Lith menatap murung bayangannya. Di benaknya terlintas lagi peristiwa menyedihkan yang terjadi sebelumnya. Hatinya kembali diliputi kesedihan.
Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkan Lith.
”Hei, aku belum pernah melihatmu?”
Dua anak laki-laki yang sedikit lebih dewasa darinya berdiri dengan tangan terlipat di dada. Seorang anak memakai baju putih yang kebesaran, sementara yang satunya memakai topi abu-abu.
”Kau anak baru, ya?” tanya anak bertopi.
Perlahan, Lith mengangguk.
Kedua anak itu saling menatap. Mereka tersenyum licik. Kemudian, mereka menghampiri Lith. Gadis kecil itu mulai ketakutan. Ia bergerak mundur beberapa langkah. Namun, kedua anak laki-laki itu berlari dan mulai memegang tangan Lith, menahannya agar tidak bergerak. Lith mulai menangis. Tulip menyalak panik.

No comments:
Post a Comment