Tuesday, October 12, 2010

相違点の間..... (Sōi-ten no ma.....) - Part 2

Rumah kayu kecil bergaya Jepang kuno berdiri di hadapan Kanao. Tak ada yang bisa diingatnya dari kehidupan yang dulu ia habiskan di sana. Ia berjalan memasukinya. Perabotan yang senada dengan rumah tua itu sudah ditempatkan di dalamnya. Ia duduk di ruang tengah. Tak ada kursi, hanya tatami dan kotatsu serta meja TV di sudut ruangan. Mata Kanao memandang langit-langitnya. Ponselnya tiba-tiba berdering. Dilihatnya layar handphone, lalu ia mengangkatnya.
            “Moshi moshi?”
            “Kanao!” seru suara di seberang telepon. “Kau pergi begitu saja?!”
            ”Maaf, Tomoe, aku tidak memberitahumu,” ujar Kanao. ”Kau tadi masih ada pemotretan, kan?”
            ”Tapi, tidak bisakah kau menunggu sampai selesai? Lalu, kita, kan, bisa bersama-sama pergi.”
            ”Maaf.”
            Tomoe menghela nafas. ”Bagaimana di sana?”
            ”Hmm,” Kanao berpikir sejenak. ”Sangat berbeda dari Tokyo.”
            ”Bodoh! Tentu saja,” kata Tomoe seraya tertawa.
            ”Mungkin akan menyenangkan tinggal di sini.”
            ”Aku tidak tahu kau akan seserius itu meninggalkan Tokyo.”
            Kini, giliran Kanao yang tertawa, ”Kau selalu menganggapku anak kecil, makanya kau tidak pernah menganggap serius ucapanku.”
            ”Itu, kan anggapanmu sendiri. Aku menghargaimu, Kanao,” jelas Tomoe. ”Ya, berhati-hatilah di sana. Jangan sampai paparazzi menemukanmu.”
            ”Kalau paparazzi menemukanku, aku akan pergi dari sini,” Kanao diam sejenak. ”Tapi, aku mungkin sudah tidak tahu harus kemana lagi.”
            ”Mungkin kau bisa kembali ke Tokyo dan menikmati kehidupan tidak bebasmu.”
            ”Aku tidak setabah kau yang bisa tahan selalu diliput kemanapun.”
            ”Aku butuh popularitas,” Tomoe tertawa. “Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku masih ada jadwal.”
            ”Hmm. Sampai jumpa.”
            ”Ja.”
            Telepon ditutup.
            Pemuda dua puluh tahun itu berjalan ke kamarnya dan membuka jendela. Matahari senja menggantung di ufuk barat. Suara burung-burung yang pulang ke sarangnya sayup-sayup terdengar. Tempat yang sempurna untuk lari dari kehidupan kota, pikir Kanao.
            Percakapannya dengan Tomoe kembali terngiang di telinganya. Tomoe lebih tua tiga tahun darinya. Ia juga sudah lebih lama berkecimpung di dunia hiburan. Pantas saja kalau ia sudah terbiasa dengan kehidupan keartisannya. Kadang ia berpikir, mungkin salah bila ia dulu memutuskan terjun ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan pasang-surut dan ketidakbebasan. Padahal, sifat aslinya adalah penyendiri. Pertama, ia memang merasakan kesenangan. Apa yang dibutuhkannya selalu dapat diperolehnya. Namun, lambat laun, ia merasa tak seperti manusia. Segala kegiatan dalam hidupnya harus selalu diatur oleh sang manajer. Kehidupan pribadi yang sifatnya sangat rahasia pun sampai ke telinga para penggemarnya yang selalu menghantui dirinya kemana pun ia berada. Inikah hidup? Pertanyaan itu sering terlintas di benaknya.
            Mata Kanao memandang langit yang sudah sepenuhnya gelap. Ketenangan ini haruslah selamanya, pikirnya. Ia menutup jendela itu tepat ketika bel pintu berbunyi.
            Begitu membuka pintu, ia langsung mengenali sosok yang berada di hadapannya.
            ”Yuna-chan,” panggilnya.
            Gadis mungil itu tersenyum. ”Aku membawakan makan malam untukmu.”
            ”Ah, terimakasih.”
            ”Boleh aku masuk?” tanya Yuna.
            ”Tentu,” jawab Kanao sambil membuka jalan bagi Yuna.
            Yuna masuk ke ruang tengah dengan langkah ringan. Ia taruh kotak bekal di meja.
            ”Kanao-kun,” panggilnya.
            Kaget karena gadis itu memanggil dengan nama depan, ia hanya menjawab panggilannya dengan tatapan mata.
            ”Kau tidak seperti seorang aktor. Kau sangat ramah,” ucapnya seraya duduk di tatami.
            ”Aktor juga manusia biasa. Tidak ada pembeda,” kata Kanao. ”Terimakasih makanannya. Aku sungguh sangat senang menerimanya.”
            Yuna menggeleng. ”Tak apa-apa. Kami biasa saling memberikan makanan di sini.”
            ”Kehidupan yang hangat,” ujar Kanao seraya duduk. ”Kau cucu Toto-san?”
            ”Cucu angkat.”
            ”Kau berasal dari mana?”
            Tawa ringan keluar dari mulut Yuna. ”Aku lahir di sini. Ayahku meninggal karena kecelakaan, setahun kemudian ibuku meninggal karena sakit. Jadi, aku dirawat oleh Toto-jii.”
            ”Maafkan aku.”
            ”Tak apa,” ucap Yuna. ”Kanao-kun, kau pernah tinggal di sini sampai umur tiga tahun,ya?”
            ”Ya. Tapi tak ada bisa ku ingat ketika itu.”
            ”Berarti kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Mungkin saat kau pergi itulah, aku baru muncul di dunia ini.”
            Sejenak Kanao terdiam mencerna perkataan Yuna tadi, lalu ia berkata, ”Kalau begitu, umurmu sekitar 17 tahun?”
            Yuna menggangguk, heran ada nada terkejut pada pertanyaan Kanao tadi.
            ”Aku kira umurmu sekitar 12-14 tahun,” Kanao tertawa. ”Kalau begitu kita hanya berbeda tiga tahun.”
            ”Tahun ini umurku genap 17,” ujar Yuna dengan nada protes.
            ”Maaf.”
            Gadis berkuncir dua itu bangkit dari duduknya. Ia berkeliling rumah itu dan mengamati keadaannya. “Tak aku sangka, rumah tua ini bisa diperbaiki sampai sebagus ini.”
            Kanao hanya menanggapinya dengan senyuman.
            ”Apa aktor selalu bisa melakukan apa yang dia mau?” tanya Yuna dengan polos.
            ”Hmm?”
            Kepala Yuna mengangguk. ”Lihat! Hanya dalam beberapa hari, rumah ini sudah tampak seperti baru. Rasanya seperti.......”
            ”Seperti?”
            ”Seperti sihir,” jawab Yuna. Matanya membulat.
            Tawa Kanao meledak. ”Kau lucu juga, ya, Yuna-chan?”
            ”Eh?” Yuna tampak heran. ”Kenapa kau tiba-tiba tertawa?”
            ”Karena kepolosanmu.”
            Kebingungan tampak jelas di wajah Yuna. Ia lalu mengalihkan pembicaraan. ”Kau tidak mau makan makanannya?”
            ”Tentu saja aku mau,” jawab Kanao. ”Tapi, nanti saja. Aku masih belum lapar.”
            ”Oh, baiklah.”
            ”Terimakasih pada Toto-san yang telah menyiapkannya.”
            ”Ya, akan kusampaikan. Ng-kalau begitu, aku pulang dulu.”
            ”Sampai jumpa, Yuna-chan.”
            Yuna beranjak ke pintu depan. Sesaat sebelum ia menutup pintunya kembali, ia berkata, ”Aku yang memasak makanannya.” Lalu, ia pun pergi.
            ”Wah, tak kusangka,” ujar Kanao. Ia pun buru-buru melihat kotak makanan itu.

No comments:

Post a Comment