TUK...TUK...
Sebuah kayu tepat mengenai kepala kedua anak laki-laki itu. Mereka pun melepaskan tangannya dari Lith dan ganti memegang kedua kepala mereka yang nyeri.
”Sakit,” raung anak yang berbaju kebesaran. ”Kau?!”
Di hadapannya, berdiri seorang anak laki-laki yang memegang sebilah kayu. Wajahnya tak menunjukkan dosa setelah memukul kepala kedua anak itu.
”Kalian mau ganggu orang lagi?” tanyanya.
Mata hitamnya menatap tajam wajah kedua anak itu.
”Aku bilang ke ibuku,” ancam si anak bertopi.
Kedua anak itu pun lari meninggalkan Lith dan penolongnya.
Lama mereka berdua terdiam. Kemudian, Lith memecah keheningan dengan mengucapkan terima kasih sambil tersipu-sipu. Anak itu hanya memandangnya tanpa berkata-kata. Ia melempar sebilah kayu yang sedari tadi dipegangnya ke air sungai yang mengalir. Lalu, ia duduk di tepinya. Mata Lith memandang anak itu.
”Mereka tadi akan ikat kau di pohon seharian,” ucap anak itu tiba-tiba.
”Mereka selalu begitu?” tanya Lith.
Anak itu tersenyum mengiyakan.
”Kau pernah?” Lith kembali bertanya.
Mata hitam yang sedari tadi memandang air kini beralih memandang Lith.
”Kau....pernah diikat di pohon?” Lith menjadi salah tingkah.
”Hampir,” jawabnya ringan.
Saat itu, Tulip mendekati anak laki-laki itu. Anjing itu pun menyalak minta perhatian. Anak itu memandangnya sesaat. Kemudian tangannya mengelus kepala anjing mungil itu.
”Anjingmu?”
Lith mengangguk. ”Tulip namanya. Baru sebulan umurnya.”
Sesaat mereka kembali terdiam. Lith menghampiri anak itu dengan gelisah dan duduk di sebelahnya.
”Mereka bilang akan mengadu ke ibu mereka,” Lith memberanikan diri berkata.
”Tak apa-apa. Mereka cuma tak berani melawan.”
”Kalau ibu mereka datang, nanti aku akan bilang yang sebenarnya.”
Anak itu kembali tersenyum. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu yang menempel di celananya.
”Aku pergi dulu.”
Tanpa menoleh, ia berlari meninggalkan sungai. Mata Lith mengikutinya sampai sosoknya menghilang di balik bukit. Lith duduk termenung di sana sampai senja datang menjemput.
Masih di desa yang sama, anak laki-laki tadi berlari di jalan utama desa. Langkahnya kemudian terhenti di sebuah rumah yang terletak nyaris di ujung timur desa.
”Bi, aku pulang,” seru anak itu seraya membuka pintu.
”Bagus. Semakin lama kau pulang semakin malam.” Seorang wanita menyahut sinis dari balik dinding dapur. “Lama-lama aku tak akan mengizinkanmu masuk.”
Anak itu mengeluh tanpa suara. Kemudian, ia menghampiri sosok wanita itu di dapur.
Dapur itu cukup luas namun berantakan. Bahan-bahan makanan ataupun alat-alat masak tergeletak sembarangan di setiap sudut dapur. Rupanya ruang makan dijadikan satu dengan dapur karena terdapat meja makan dengan dua kursi di ruangan itu. Asap mengepul dari kuali di atas api yang menyala di salah satu sudut dapur. Di depannya seorang wanita muda mengaduk-aduk isi kuali itu.
”Ambilkan mangkuk dan taruh di meja.”
Anak laki-laki itu menurut. Ia memanjat meja dapur lalu mengambil dua buah mangkuk dari lemari dinding. Tak hanya mangkuk tapi ia juga mengambil sendok dan gelasnya. Setelah itu, ia menyusunnya di meja makan.
“Bibi Fay, makan apa kita malam ini?”
”Sup daging,” Bibinya menjawab singkat.
“Enak,” ucap anak itu mencoba membuat bibinya melupakan kesalahannya.
Tak ada tanggapan. Fay mencicipi sedikit kuah supnya lalu bergumam sedikit tentang betapa cerdasnya ia dalam memasak. Kemudian, ia mengangkat kuali itu dan meletakkannya di tengah meja makan. Keponakannya sudah duduk manis di situ.
Sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk, ia berkata, ”Kau pasti tahu kalau malam itu tidak aman. Kau baru tujuh tahun. Bagaimana kalau ada perampok yang mengganggumu atau ada binatang liar yang lapar? Kau bisa celaka. Desa ini masih banyak menyimpan binatang-binatang aneh kelaparan dalam hutan-hutannya.”
Ia menaruh mangkuk sup di depan keponakannya, ”Makanlah.”
Ia menaruh mangkuk sup di depan keponakannya, ”Makanlah.”
Anak itu mulai menyuap sup ke mulutnya.
Fay kembali berbicara, ”Kau mengerti? Kalau besok kau pulang malam lagi, Bibi akan mengunci pintu agar kau tahu betapa berbahayanya di luar sana. Paham?”
”Tapi kenapa anak-anak lain boleh?” bela anak laki-laki itu. ”Aku sering melihat mereka main meski sudah malam.”
”Orangtua mereka belum mengerti bahaya malam.”
”Lalu, kenapa bibi mengerti?” tanya keponakannya. Dalam usia semuda itu, ia mampu menatap tajam bibinya. ”Apa bahaya malam yang membuat ayah-ibu meninggal?”
Fay terdiam. Ia pun sadar betapa cerdasnya anak yang ada di hadapannya sekarang. Anak itu mampu mengaitkannya dengan kematian kedua orang tuanya enam tahun lalu yang masih misterius. Ia butuh informasi, itu yang tersirat dalam tatapan matanya.
”Apa yang kau dengar dari warga?” Fay balik bertanya.
“Tapi Bibi pasti marah?” Anak laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya.
”Apa yang kau dengar?” ulang Fay dengan nada yang lebih halus.
“Aku dengar mereka meninggal tiba-tiba. Tak ada yang tahu kenapa.”
“Bibi sudah mengatakan kalau mereka meninggal karena kecelakaan, bukankah begitu?”
”Mereka malah bilang kalau Bibi...........,” Keponakannya terdiam beberapa saat. ”....pembunuh ayah-ibuku.”

No comments:
Post a Comment