Tuesday, October 12, 2010

The Averior Chapter 1 Part 1

1
A Story from Thebe

            Lith melangkahkan kakinya dengan ringan di jalanan desa Thebe. Tanah yang hijau dan subur mendominasi wilayah desa itu. Birunya langit menjadi atap yang indah dan serasi bagi daratan hijau desa. Hari yang cerah membuat gadis belia itu bersenandung riang seirama dengan langkahnya. Di belakangnya, seekor anjing mungil yang berwarna coklat berlari mengikutinya. Ia menyalak seolah-olah ikut bersenandung bersama pemiliknya.
            “Ayo, Tulip, kita ke sungai,”
            Ajakan Lith disambut riang oleh anjing itu. Ekornya bergerak-gerak bersemangat.
            Tak berapa lama, Lith bisa mendengar suara aliran air yang menenangkan. Ia memperlambat langkahnya. Tanpa sadar, tadi ia menuju ke sini dengan setengah berlari.
            Masih bersemangat, ia mendaki bukit kecil yang menghalangi pandangannya ke sungai. Setibanya di puncak, ia tersenyum melihat seseorang yang telah duduk di tepi sungai, seorang lelaki yang sebaya dengannya. Wajah tampannya termenung memandang air sungai yang jernih.
            Perlahan, Lith mendekat. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, lelaki itu menyadari kehadirannya. Ia menoleh memandang Lith. Tatapan mata hitamnya  selalu membuat Lith membeku.
            Wajah Lith merona. “Tulip yang mengikutimu.”
            Telunjuknya mengarah pada anjing kecil coklat yang sedang bersemangat berlari ke sungai.
            ”Kau selalu berkata seperti itu.”
            Lelaki itu bernama Ruud. Teman Lith sejak ia berumur tujuh tahun. Ia membuat gerakan kepala mempersilakan Lith duduk.
            Wajah Lith kembali merona. Ia berjalan malu-malu dan duduk di sebelah Ruud.
            Lama mereka saling terdiam. Kemudian, Lith berkata, ”Hari ini ulang tahunmu, bukan?”
            ”Rupanya kau ingat,” Ruud tidak tersenyum tetapi kegembiraan tampak jelas di wajahnya.
            ”Aku punya sesuatu untukmu,” ujar Lith tak begitu jelas.
            Namun, Ruud bisa menangkap kata-kata Lith. ”Kau tak perlu repot-repot.”
            Lith menggeleng. ”Tujuh belas adalah usia yang spesial. Aku sudah berencana memberikanmu sesuatu. Sama sekali tak merepotkanku.”
            Ia mengeluarkan sebuah kotak dari saku bajunya. Kemudian, ia mengulurkannya pada Ruud.
            ”Terima kasih.” Lagi-lagi kegembiraan muncul begitu jelas di wajahnya meskipun tanpa senyuman.
            ”Bukalah,” ujar Lith melihat Ruud yang hanya memegangi kotak pemberiannya.
            Jari-jari Ruud membuka kotak itu. Ia mengangkat sebuah buku harian. Buku itu cukup tebal dengan bentuk yang menarik. Sampulnya terbuat dari kulit dan berwarna hitam. Pola-pola indah menghiasi sampul tersebut.
            ”Kau suka?” tanya Lith.
            ”Tentu,” ujar Ruud. ”Terima kasih.”
            Lith menunduk menatap tanah. ”Kau pernah memberitahukan padaku kau akan mengembara suatu hari nanti.”
            Mata Ruud menatap Lith, menunggunya meneruskan kata-kata.
            ”Jadi, aku memberimu buku harian,” lanjut Lith. ”Kupikir kau harus mencatat perjalananmu di situ.”
            ”Oh. Ini menarik,” ucap Ruud seraya memandang buku harian.
            Mereka berdua kembali terdiam. Angin pagi yang sejuk berhembus. Lith memperhatikan Ruud yang kembali menatap air sungai. Rambut hitam yang serasi dengan warna mata Ruud bergerak diterpa angin. Alis tebalnya berkerut. Matanya tetap terlihat tajam meskipun saat ini ia sedang termenung.
            Saat ini dalam pikiran Lith, ia lega sekaligus sangat bahagia hadiah darinya bisa membuat Ruud senang. Namun, ia menduga-duga kapan saatnya Ruud pergi dari desa ini. Apa yang harus ia lakukan tanpa Ruud?

No comments:

Post a Comment