”Kanao-kun,” Yuna menyambutnya di depan pintu.
”Ada apa, Yun.................?” Lengan Kanao langsung ditarik sebelum ia mampu menyelesaikan pertanyaannya.
”Kau tahu?” tanya Yuna seraya menarik Kanao keluar dari rumahnya. ”Kalau kau tinggal di desa, seharusnya kau memperkenalkan diri kepada seluruh penduduk desa.”
”Tapi, Yuna,” protes Kanao. ”Aku......”
”Kau tentunya tidak mau dianggap sombong oleh warga desa, kan?” Yuna kembali memotong perkataan Kanao.
Kanao pun menyerah ditarik Yuna sampai tiba di sebuah rumah yang tak jauh dari gereja dan rumah tempat tinggal Yuna. Gadis kecil itu memencet bel rumah. Beberapa menit mereka menunggu sampai akhirnya seorang lelaki muda membuka pintu.
”Shuichi,” panggil Yuna. ”Cepat panggil orangtuamu. Kanao-kun mau memperkenalkan diri.”
Bingung, Shuichi kembali masuk ke rumahnya dan kembali dengan keluarganya.
”Nah, ini keluarga Mizuno,” Yuna memperkenalkan mereka.
”Kau pasti Kanao, kan, yang aktor itu?” Ibu Shuichi tampak senang. ”Wah, kau benar-benar tampan.”
”Okaa-san!” seru Kanao, malu dengan ucapan ibunya.
”Ini Mizuno Shuichi,” Kini, Yuna memperkenalkan Shuichi. ”Ia seumuran denganku.”
”Hajimemashite,” ujar Kanao seraya membungkukkan badannya.
Shuichi balas membungkukkan badan.
”Ayo Kanao-kun! Kita ke rumah yang lainnya,” ajak Yuna. ”Arigatou, Mizuno-san.”
Mereka pergi mengunjungi rumah para penduduk desa yang jumlahnya tak begitu banyak. Satu hal yang Kanao sadari, anak muda di desa ini hanyalah Mizuno Shuichi dan Yuna sendiri. Penduduk di sini didominasi orang-orang berumur di atas lima puluh tahun serta sisanya ada beberapa anak kecil dan orang dewasa yang rata-rata sudah menikah.
”Sudah,” ujar Yuna riang selesai mereka berkeliling desa. ”Semua penduduk sudah kita kunjungi. Tak banyak, kan?”
Kanao mengangguk. ”Arigatou, Yuna-chan.”
”Dou itashimashite,” balas Yuna. ”Aku senang kau mau ikut denganku untuk berkenalan dengan penduduk desa.”
Kanao teringat Tomoe yang masih berada di rumahnya. ”Yuna-chan, aku harus segera kembali ke rumah. Sebenarnya, tadi aku ada tamu.”
”Oh, benarkah? Siapa itu? Apakah artis juga?” tanya Yuna penasaran.
”Ia seorang model. Kau mau bertemu dengannya?” ajak Kanao.
Yuna mengangguk senang. ”Hai.”
Ia pun mengikuti Kanao sampai ke rumahnya. Tiba di sana, ia masuk ke dalam dan melihat seorang wanita yang sudah tak asing lagi.
”Kau model iklan parfum, bukan?” tanya Yuna.
”Kau mengenalnya?” tanya Kanao heran.
”Ya, aku selalu melewati papan iklan besar parfum itu jika ingin bersekolah. Wanita ini adalah modelnya.”
Tomoe bangun dari posisi duduknya. Ia menghampiri Yuna.
”Hajimemashite,” ia memperkenalkan diri. ”Namaku Fujiwara Tomoe. Aku senang kau mengenalku.”
”Hajimemashite. Aku Yuna.”
”Kau mau bergabung bersama kami?” ajak Tomoe. ”Tadi kami sedang minum teh.”
”Tidak, terima kasih. Aku harus pergi sekolah besok. Ini sudah terlalu malam,” ucap Yuna. ”Aku permisi dulu.”
Ia segera beranjak ke pintu depan.
Sesaat sebelum ia menutup pintu keluar, ia berhenti sejenak dan berkata, ”Maaf, tadi aku menarik Kanao-kun keluar. Aku tidak tahu kau sedang berkunjung ke sini.”
”Memang kau kemana tadi?” tanya Tomoe saat Yuna sudah tak terlihat.
”Diajak memperkenalkan diri ke penduduk desa, ” jawab Kanao. ”Gomen, aku jadi meninggalkanmu.”
”Gadis yang menarik,” Tomoe berkomentar.
”Aku sedikit kecewa saat ia mengenalmu.”
Tomoe menatap Kanao dengan bingung.
”Ia tidak mengenalku,” jelas Kanao. ”Seharusnya, kan, popularitasku lebih tinggi daripada kau.”
Tomoe tertawa. ”Kau terima saja kekalahanmu kali ini.”
Sementara di rumahnya, Yuna tengah berbaring di futon. Matanya belum terpejam.
”Fujiwara Tomoe,” gumamnya. ”Minum teh di rumah Kanao-kun? Mereka pasti dekat.”
Yuna menghembuskan nafas panjang, lalu ia memejamkan matanya. Sunyi selama beberapa menit. Kemudian, tiba-tiba,
”Wah, ia cantik sekali!” teriak Yuna kesal.

No comments:
Post a Comment