Gadis berambut coklat jerami duduk menghadap jendela. Burung-burung berkicau riang di luar sana. Suara daun yang saling bergesekan menyajikan melodi indahnya tersendiri.
Tiba-tiba gadis itu mencengkeram dadanya. Ekspresi wajahnya kesakitan.
“Lith?!” Ibunya menghampiri anaknya dengan wajah khawatir.
Lith kembali menguasai keadaan. “Aku tak apa-apa.”
Sudah seharian ini dadanya sering dilanda sesak yang amat menyakitkan.
”Istirahatlah di kamarmu,” bujuk ibunya. ”Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”
Gadis itu menurut. Ia berjalan menuju kamarnya. Di tempat tidurnya, ia kembali menatap jendela. Pikirannya menerawang.
Sudah tiga hari Ruud pergi meninggalkan desa, gumamnya dalam hati. Bagaimana keadaannya?
Berkilo-kilo meter jauhnya dari desa Thebe, Ruud tengah duduk berlindung dari teriknya matahari di bayangan atap sebuah rumah. Ia menatap tasnya yang isinya jauh sangat berkurang dibanding hari pertama perjalanannya. Dalam hati, ia mensyukuri bekal yang diberikan bibinya. Padahal sebelumnya ia sempat menolak. Ternyata, bertualang tidak semudah yang ia bayangkan. Sudah tiga hari berlalu, ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Ruud bangkit berdiri dan mengambil tasnya yang hampir kosong. Ia berjalan di jalanan desa asing yang kondisinya sangat jauh berbeda dari Thebe. Hampir sangat sering ia menemui gelandangan yang duduk di pinggir jalan. Lingkungannya pun sama sekali tidak asri dan hijau. Hanya ada rumah-rumah kumuh tanpa pepohonan di pinggir jalannya.
Beberapa langkah ia berjalan sampai tiba-tiba ia berhenti di hadapan tembok yang kumuh. Ia menatap selebaran yang ditempel di sana. Wajah seorang lelaki dengan mata yang besar membelalak terpampang di selebaran itu dengan tulisan ’DICARI’ di atasnya. Lama ia menatap selebaran itu. Lalu, dengan berlari ia kembali menyusuri jalan yang telah ditelusurinya. Ia berhenti di sebuah bangunan dengan papan nama bertuliskan ’Pandai Besi’. Seorang laki-laki separuh baya berdiri di balik meja di dalam bangunan itu. Ruud menghampirinya.
”Aku ingin dibuatkan pedang,” ucap Ruud.
Lelaki itu menatap Ruud. “Berapa yang kau punya?”
Ruud menggeledah isi tasnya. Kemudian, ia mengeluarkan keping-keping uang dan meletakkannya di hadapan si pandai besi.
Ia menatap tumpukan kecil uang di hadapannya. ”Kau bercanda?” Ia menyeringai. ”Pedang apa yang bisa kau dapatkan dengan uang itu?!”
”Nanti aku akan bayar sisanya,” janji Ruud.
”Bagaimana aku bisa memercayaimu?”
”Buatkan aku pedang maka dalam waktu seminggu aku akan kembali untuk membayar sisanya.”
Si pandai besi menggeleng. ”Tidak bisa.”
Lelaki itu hendak mengusir Ruud keluar dari rumahnya. ”Aku tak punya waktu untuk meladenimu.”
Namun, Ruud tak kehabisan ide. Ia melepas kalung peninggalan ayahnya dan menyodorkannya pada pandai besi itu.
”Ini,” ucapnya. ”Sebagai jaminan kalau aku akan kembali.”
Tangan si pandai besi berhenti mendorong Ruud keluar. Ia mengambil kalung dari tangan Ruud dan mengamatinya.
Tak lama ia berkata, ”Baiklah. Aku menerimanya.”
Ia berjalan kembali ke mejanya.
”Pedang seperti apa yang kau inginkan?” tanyanya pada Ruud.
”Aku ingin pedang terbaik yang bisa kau buat dan aku hanya punya waktu sehari.”
”Kau terlalu banyak menuntut,” komentar si pandai besi.
Namun, ia mencatat pesanan Ruud di secarik kertas.
Keesokannya, Ruud kembali berjalan di jalan yang telah dilaluinya kemarin. Namun kali ini dengan sebilah pedang di pinggangnya. Ia melewati dinding dengan selebaran yang sudah dilihatnya. Mata besar lelaki yang fotonya terpampang di kertas itu kembali memandangnya. Tulisan ’BERHADIAH 100 KEPING EMAS BAGI YANG BERHASIL MENANGKAPNYA’ memenuhi pikiran Ruud. Inilah yang harus dilakukannya. Menjadi pemburu buronan. Selain mendapat uang, kelompok penjahat mungkin memiliki petunjuk yang dapat mengantarkannya pada pembunuh orangtuanya.

No comments:
Post a Comment