9 Februari 2009
”Shuichi!”
”Ya, sebentar lagi,” ujar seorang remaja laki-laki dari jendela kamarnya di lantai dua.
Di bawah, Yuna dengan seragam SMA-nya sudah berteriak-teriak memanggilnya. Shuichi Mizuno pun buru-buru memakai seragamnya. Ia turun ke bawah, menyambar roti dari meja makan, dan berjalan keluar.
“Okaa-san, aku pergi.”
“Ya,” ucap ibunya. “Lain kali jangan kesiangan lagi.”
Shuichi mengambil sepeda miliknya. Ia menghampiri Yuna yang dengan muka cemberut menunggunya di depan rumah.
”Ayo, kita berangkat!” ujar laki-laki itu seraya menggigit rotinya.
”Tiga hari berturut-turut kau selalu bangun kesiangan. Apa, sih, yang kau lakukan?” tanya Yuna marah.
”Cerewet!” Kata-kata Shuichi tak begitu jelas karena roti yang memenuhi mulutnya.
”Apa kau bilang?”
”Ayo, cepat naik! Kau tak mau terlambat, kan?”
Yuna menaiki sepeda Shuichi. ”Kalau kita terlambat, itu gara-gara kau.”
Shuichi menginjak pedal sepedanya. ”Kalau begitu, lain kali jalan saja sendiri. Jangan menumpang di sepedaku lagi!”
”Kau?!” Sepanjang perjalanan itu pun Yuna menekuk mukanya.
Sepanjang 5 km sepeda itu harus menempuh jarak. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Yuna masih marah dengan keterlambatan Shuichi. Namun, begitu sampai, ternyata mereka masih punya waktu lima menit sebelum sekolah dimulai.
”Kau tahu penduduk baru desa kita?” tanya Yuna begitu turun dari sepeda.
”Oh, rupanya kau masih mau bicara padaku?!” ejek Shuichi.
Yuna tak menjawab apa-apa. Ia hanya memalingkan mukanya seraya mendengus.
”Iya, aku tahu,” jawab Shuichi. ”Yang aktor itu?”
”Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Yuna. Matanya berbinar-binar.
“Belum. Ia tak memperkenalkan dirinya pada penduduk desa.”
“Oh.”
“Sepertinya ia orang yang sombong.” Shuichi menarik kesimpulan.
“Tidak, kok,” bela Yuna. “Mungkin ia tak terbiasa memperkenalkan dirinya, ia kan tinggal di Tokyo sebelumnya.”
“Ya, sudah. Kau kasih tahu saja bagaimana kehidupan di desa kepada orang kota itu!” ujar Shuichi setengah dongkol.
Yuna tak bereaksi dengan kedongkolan teman sejak kecilnya itu.
”Benar juga. Sepertinya aku harus mengajari Kanao-kun tentang kehidupan di desa,” gumamnya.
”Oh,” ucap Shuichi. ”Kau sudah bertemu dengannya, ya?”
”Ya,” Yuna mengangguk antusias. ”Ia tampaaaann sekali. Kau harus melihatnya.”
”Sudah tahu,” tanggap Shuichi cuek. ”Aku sering melihatnya di TV. Kenapa aku harus melihatnya lagi? Lagipula, aku tidak akan naksir dia.”
”Ia sering muncul di TV? Pasti ia terkenal sekali?”
Kepala Shuichi mengangguk. “Ia muncul di banyak iklan dan beberapa film seri. Film serinya yang terakhir mendapat banyak perhatian. Katanya ia akan main film lagi.”
“Ya, syutingnya di dekat desa kita. Wah, beruntung sekali aktor terkenal itu datang ke desa kita.”
Shuichi memandang Yuna heran. “Kenapa semua wanita heboh dengan kedatangannya? Termasuk ibuku.”

No comments:
Post a Comment